31 Desember 2011

SEKILAS WAJAH 2011

TAHUN 2011 merupakan tahun yang penuh warna bagi Kecamatan Kertek. Rentetan berbagai peristiwa telah mewarnai perjalanan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat Kertek. Berita menggembirakan sampai peristiwa yang tragis ikut mengharu-birukan suasana tahun 2011 di Kecamatan Kertek. Tak hanya itu, berbagai prestasipun telah berhasil ditorehkan oleh masyarakat Kertek selama kurun waktu satu tahun ini, termasuk estafet kepemimpinan yang selalu menjadi berita menarik bagi sebagian kalangan.

TAHUN BAKTI LINGKUNGAN

Tahun 2011 bisa disebut sebagai tahun lingkungan bagi Kecamatan Kertek. Tak kurang dari 4 even besar yang bertemakan lingkungan dipusatkan di Kertek. Penanaman 1 miliar pohon oleh Bupati Wonosobo di Reco, HUT Bank Jateng di Bedakah, HUT Bank Rakyat Indonesia di Bejiarum, dan Program Kebun Bibit Sekolah dimana Kecamatan Kertek terpilih sebagai salah satu pionirnya dan telah menghasilkan sebanyak 22.562 bibit yang terdiri dari kayu suren, albasia, dan akasia mangium.

Selain even-even besar diatas, banyak kegiatan bakti lingkungan dalam skala kecil yang telah dilakukan  antara lain tamanisasi lingkungan perkantoran, penghijuan jalan, penataan sanitasi pasar kertek. serta  program "kertek nandur ganyong" yang kesemuanya dilaksanakan secara terpadu dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat Kertek termasuk dari unsur TNI dan POLRI.

Keberhasilan di bidang lingkungan tersebut tak bisa lepas dari peran Camat Kertek waktu itu yaitu Agus Wibowo, S.Sos yang selalu ngoprak-oprak seluruh masyarakat kertek untuk lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan. Tak mengherankan apabila Agus WIbowo mendapatkan julukan Mat Ginem( camat gila nanem) dari BlogNya Kertek.

Namun dibalik keberhasilan tersebut masih menyisakan satu pekerjaan rumah yang sangat penting bagi kelestarian lingkungan di Kertek khususnya, yaitu 25,1 Ha areal tambang galian C yang secara resmi telah ditutup sejak 17 Februari 2009, akan tetapi areal bekas tambang tersebut sampai sekarang masih terbengkalai, bahkan di beberapa lokasi kegiatan penambangan kembali berlangsung secara sporadis. 

TAHUN BUDAYA
Perkembangan serta pelestarian budaya tradisional di Kecamatan Kertek mulai memasuki masa keemasan pada tahun 2011 ini. Hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya jumlah kelompok kesenian tradisional yang pada tahun ini mencapai kurang lebih 100 grup kesenian. Mulai dari lengger, tayub, embleg, warokan, wayang orang, dan rebana. Hal itu menunjukkan antusiasme masyarakat untuk melestarikan budaya asli Wonosobo yang semakin meningkat. Salah satu indikatornya dapat diliat dari jumlah peserta yang ikut menyemarakkan Pawai Hari Jadi Wonosobo ke-186 di tingkat kabupaten, tanggal 24 Juli 2011 yaitu mencapai kurang lebih 2000 orang. Jumlah yang sangat fantastis apabila dibandingkan dengan Kecamatan lain di Wonosobo.

Disamping grup kesenian tradisional yang dimiliki, khasanah budaya di Kecamatan Kertek juga semakin bertambah dengan ditemukannya beberapa peninggalan bersejarah berupa batu candi, lingga dan yoni di Desa Bejiarum dan Wringinanom.


TAHUN TRAGEDI
Disamping kabar menggembirakan, akan selalu datang kabar yang menyedihkan. Demikian halnya dengan Kecamatan Kertek. Dalam kurun waktu satu tahun, tercatat telah terjadi 4 kali kecelakaan yang telah merenggut tak kurang dari 10 nyawa. Tiga diantaranya terjadi di kawasan pasar kertek, dan yang terakhir terjadi di dusun Plumbanan, Purwojati. Maka tidaklah salah apabila jalur ini disebut sebagai "jalur maut kertek".  

Bencana alam juga kerap kali melanda daerah ini. Tercatat 2 kali tanah longsor di Desa Reco, angin puting beliung di desa Reco dan Candiyasan, serta kebakaran yang terjadi di Jambusari Kertek dan Sudungdewo.

Berbagai kejadian bencana tersebut akhirnya mendapat respon dari Pemerintah Kecamatan Kertek dengan membentuk Unit Penanganan Bencana Daerah ( UPBD) Kecamatan Kertek yang dikukuhkan oleh Wakil Bupati Wonosobo, Hj. Maya Rosida pada tanggal 1 Juni 2011. Tim yang mempunyai anggota sebanyak 463 orang ini berfungsi sebagai Unit Reaksi Cepat apabila terjadi bencana di wilayah Kertek

Pada penghujung tahun ini pula santer diberitakan oleh berbagai media mengenai peningkatan aktivitas gunung sindoro. Hal itu sempat membuat panik masyarakat, namun dengan sosialisasi yang tepat, kepanikan tersebut dapat diredam dan semoga apa yang selama ini ditakutkan oleh masyarakat akan aktivitas gunung sindoro tersebut tidak terjadi.

Semoga di tahun 2012 yang akan datang dan seiring dengan estafet kepemimpinan dari Agus Wibowo,S.Sos kepada Prayitno,S.Sos.M.Si, Kertek akan semakin maju, sejahtera dan terhindar dari segala bencana.

Tak lupa teriring doa kepada rekan kami, Sarkiyo, yang telah berpulang ke Rahmatullah pada akhir tahun 2011 ini...Selamat jalan kawan, doa kami selalu menyertai langkahmu...

LAST BUT NOT LEAST.....HAPPY NEW YEAR 2012....!!!!


27 Desember 2011

KISAH RENDENG EMAS DI LERENG DIENG


TERJADINYA musibah banjir bandang di Desa Tieng, Kecamatan Kejajar beberapa waktu lalu menyisakan sebuah kisah. Kisah yang sudah lama dilupakan terutama generasi muda. Kisah yang diyakini para sesepuh desa berkaitan dengan terjadinya bencana banjir bandang yang baru saja terjadi. Ya, kisah rendeng emas itu kembali dibicarakan di tempat pengungsian korban bencana Desa Tieng. 

Menurut Tafrihan, Ketau Forum Peduli Dieng yang terlibat dalam penangan korban bencana Desa Tieng, sejak jaman dahulu ada sebuah kisah yang diceritakan secara turun temurun oleh sesepuh Desa Tieng. Bahkan sampai sekarang kisah itu masih diyakini, walaupun sulit untuk membuktikannya. Tidak diketahui secara pasti siapa yang pertama kali menceritakan kisah ini. Rendeng merupakan tanaman sejenis rumput yang dulu sering digunakan untuk mengobati luka oleh warga Tieng.

Rendeng (Centella Asiatica) sering juga disebut antanan, panegowang, rendeng, caling rumput, antenan gede, pagaga dan kori-kori. Tanaman itu bisa tumbuh di ketinggian 2.500 meter dpl. Tanaman ini tumbuh tanpa batang, dengan rimpang pendek dan stolon-stolon yang merayap dengan panjang 10-80 cm. Akarnya keluar dari setiap bonggol dengan cabang yang membentuk tumbuhan baru. Helai daun bersifat tungga, panjang tangkai sekitar 5-15 cm dengan bentuk seperti ginjal manusia.

Hampir semua warga Tieng dari anak usia 17 tahun sampai usia lanjut sering mendengar cerita rendeng emas ini. Konon di kaki gunung Pakuwojo tumbuh tanaman yang bernama rendeng, tetapi rendeng ini tidak seperti rendengan yang lain. Rendengan ini bernama rendeng emas yang harus dijaga dan tidak seorang pun boleh memetiknya. Karena jika sampai dipetik maka pasti akan terjadi bencana banjir bandang yang menghabiskan seluruh kawasan Desa Tieng. 

Ada yang mengatakan bahwa rendeng emas ini ada di goa Ngesong yakni sebuah goa batu yang ruangan dalamnya muat sekitar 10 orang. Ada juga yang mengatakan tanaman itu tumbuh di tengah gunung Pakuwojo. 

Waga Desa Tieng, M Fanani membenarkan kisah tersebut. Dia mengatakan, kisah rendeng emas itu dia dengar saat duduk dibangku SD. Moral cerita mitos ini memang banyak nilai luhurnya. Bisa jadi yang dimaksud dengan rendeng emas adalah tanaman kayu, pohon dan tanaman lain yang memiliki fungsi lindung. Dalam pengungsian cerita rendeng emas ini menjadi topik hangat kembali. Orang yang usianya lanjut sering diminta untuk menceritakan tentang rendeng emas dan yang lain mendengarkan dengan hikmad. (Rinto H)

RUWATAN UNIK DI PERBOTO, KALIKAJAR



PAGI ITU terlihat warga Dusun Perboto, Desa Pernoto, Kecamatan Kalikajar berkumpul di halaman rumah Kiyem Kasyoto (79) salah satu tokoh masyarakat dusun setempat, Kamis (22/12). Mereka berbondong-bondong datang membawa aneka makanan hasil bumi untuk upacara selamatan dusun atau dikenal dengan ruwatan Dusun Perboto. Prosesi upacara diawali dengan berkeliling kampung menuju makam Eyang Soro yang diyakini warga setempat sebagai tokoh pembuka desa. 

Tokoh masyarakat tampak mengenakan pakaian adat jawa lengkap yang diiringi warga dusun setempat. Di makam itu warga memanjatkan doa bersama untuk mengenang perjuangan Eyang Soro. Semua warga tampak khusyuk mengikuti prosesi tersebut. Setelah itu, warga kemudian berkeliling kampung mendatangi beberapa hewan ternak seperti kerbau, sapi dan kambing untuk diruwat.

Menurut penuturan Kiyem Kasyoto (79) prosesi itu untuk mendoakan hewan ternak agar diberi keselamatan dan mendatangkan keuntungan kepada warga Dusun Perboto. Hewan ternak itu merupakan harta yang sangat berharga bagi warga sekitar yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Dengan didoakannya hewan ternak itu diharapkan kemakmuran dan kesejahteraan warga meningkat. 


Tak tanggung-tanggung, upacara ruwat Dusun Perboto itu dilakukan selama tiga hari tiga malam dengan menampilkan aneka kesenian tradisional diantaranya pertunjukkan wayang yang menampilkan cerita Babat Polosoro yang dibawakan oleh Kiyem Kasyoto. Selain itu, pertunjukan tari lengger juga digelar untuk melengkapi kebahagiaan warga. "Acara ini berlangsung dari hari Rabu (21/12) hingga Jumat (23/12) yang dikuti oleh semua warga dusun," ucap Kiyem Kasyoto.


Mantan Kades Perboto, Sutejo mengatakan, kegiatan itu untuk mendoakan lingkungan, masyarakat dan ekonomi warga setempat sehingga senantiasa diberi keselamatan. Selain itu, acara itu merupakan ajang mengenalkan sejarah terbentuknya Dusun Perboto kepada generasi muda. "Dengan mengenal sejarah desanya diharapkan kecintaan pemuda terhadap desanya bertambah dan aktif terlibat dalam pembangunan desa," tuturnya. Rinto HariyadiPagi itu, terlihat warga Dusun Perboto, Desa Pernoto, Kecamatan Kalikajar berkumpul di halaman rumah Kiyem Kasyoto (79) salah satu tokoh masyarakat dusun setempat, Kamis (22/12). Mereka berbondong-bondong datang membawa aneka makanan hasil bumi untuk upacara selamatan dusun atau dikenal dengan ruwatan Dusun Perboto. Prosesi upacara diawali dengan berkeliling kampung menuju makam Eyang Soro yang diyakini warga setempat sebagai tokoh pembuka desa. 

Tokoh masyarakat tampak mengenakan pakaian adat jawa lengkap yang diiringi warga dusun setempat. Di makam itu warga memanjatkan doa bersama untuk mengenang perjuangan Eyang Soro. Semua warga tampak khusyuk mengikuti prosesi tersebut. Setelah itu, warga kemudian berkeliling kampung mendatangi beberapa hewan ternak seperti kerbau, sapi dan kambing untuk diruwat.


Menurut penuturan Kiyem Kasyoto (79) prosesi itu untuk mendoakan hewan ternak agar diberi keselamatan dan mendatangkan keuntungan kepada warga Dusun Perboto. Hewan ternak itu merupakan harta yang sangat berharga bagi warga sekitar yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Dengan didoakannya hewan ternak itu diharapkan kemakmuran dan kesejahteraan warga meningkat. 


Tak tanggung-tanggung, upacara ruwat Dusun Perboto itu dilakukan selama tiga hari tiga malam dengan menampilkan aneka kesenian tradisional diantaranya pertunjukkan wayang yang menampilkan cerita Babat Polosoro yang dibawakan oleh Kiyem Kasyoto. Selain itu, pertunjukan tari lengger juga digelar untuk melengkapi kebahagiaan warga. "Acara ini berlangsung dari hari Rabu (21/12) hingga Jumat (23/12) yang dikuti oleh semua warga dusun," ucap Kiyem Kasyoto.


Mantan Kades Perboto, Sutejo mengatakan, kegiatan itu untuk mendoakan lingkungan, masyarakat dan ekonomi warga setempat sehingga senantiasa diberi keselamatan. Selain itu, acara itu merupakan ajang mengenalkan sejarah terbentuknya Dusun Perboto kepada generasi muda. "Dengan mengenal sejarah desanya diharapkan kecintaan pemuda terhadap desanya bertambah dan aktif terlibat dalam pembangunan desa," tuturnya. (Rinto H)

21 Desember 2011

SEMINAR REPRODUKSI SEHAT BAGI REMAJA


WONOSOBO-Sebanyak 150 orang  yang terdiri dari siswa, guru dan anggota Organisasi Wanita di Wonosobo mengikuti acara Sarasehan “Pemenuhan Hak Kesehatan Reproduksi dan Seksual Adalah Bagian Hak Asasi Manusia”. Sarasehan ini diadakan oleh panitia Hari Ibu di Pendopo Kabupaten Wonosobo, pada Senin(19/12).

Sarasehan dengan tema “Pemenuhan Hak Kesehatan Reproduksi dan Seksual Adalah Bagian Hak Asasi Manusia” juga dihadiri oleh Wakil Bupati Wonosobo Maya Rosida. Tujuan diadakannya acara ini adalah memberi bekal dan informasi kepada para remaja untuk mengantisipasi adanya kebebasan sex, HIV dan Narkoba. 

Adapun narasumber acara ini adalah Wiwid Majas Maestro dari Youth Centre PKBI Yogyakarta menyampaikan materi tentang Kesehatan Reproduksi dan Seksual Remaja. Wiwid mengungkap proporsi kasus AIDS di indonesia pada tahun 2011 berdasarkan jenis kelamin, yaitu laki-laki 72.00%, perempuan 2.00% dan 0,50% untuk yang tidak di ketahui. Sebanyak 14 orang telah terinveksi HIV/AIDS di daerah Wonosobo saja.  Di sampaikan juga fakta-fakta mengenai bahaya sex sehingga diharapkan para remaja dapat berfikir dua kali  apabila akan melakukan sex bebas. Cara penyampaian yang jenaka dan komunikatif  disambut hangat oleh para peserta.

Ketua panitia Nuraini Ariswari berharap, Pemerintah Kabupaten Wonosobo dan segenap elemen masyarakat Wonosobo agar bersama-sama menyelesaikan persoalan remaja,”Remaja merupakan generasi penerus bangsa sehingga harus benar-benar kita arahkan supaya jangan sampai terjerumus pada pergaulan bebas dewasa ini,”tuturnya.

Sementara itu, menanggapi penyelenggaraan acara ini, Santi (16),salah satu pelajar asal SMA Muhammadiyah Wonosobo mengatakan, materi yang disampaikan narasumber sangat bermanfaat. “Jadi tahu gimana pengetahuan tentang reproduksi secara lebih spesifik, sehingga bisa terhindar dari seks bebas dan HIV/AIDS”, ujarnya.

Dalam acara ini juga di laksanakan penggalangan dana untuk korban bencana bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Desa Tieng, Kejajar. (anis)

08 Desember 2011

AKTIVITAS WARGA LERENG SINDORO MASIH NORMAL

KERTEK - Naiknya status gunung sindoro dari normal menjadi waspada ternyata tidak berpengaruh bagi sebagian besar warga yang tinggal di lereng gunung ini seperti yang terlihat di desa Reco, Kecamatan Kertek. Walaupun hanya berjarak sekitar 5 kilometer dari puncak gunung, warga di desa ini mengaku tidak pernah mendengar ataupun merasakan gempa seperti kabar yang beredar luas di masyarakat belakangan ini,"Kulo mboten tau ngroso wonten lindu (gempa-red) nopo suara gemluduk ( saya tidak pernah merasakan gempa ataupun suara gemuruh)," tutur Asngari( 40 ) warga dusun Yososari Reco.

Hal itu juga dibenarkan oleh Yati (30), ibu 2 anak ini juga tidak pernah merasakan adanya keanehan pada aktivitas gunung sindoro, "Cuma banyak kabar yang bilang kalau gunung sindoro sudah mau meletus."

Kepala desa Reco, Hely Kurniyawan ketika ditemui menyatakan bahwa pihaknya terus menghimbau kepada masyarakat untuk tidak mempercayai isu-isu yang tidak benar," Kami terus menghimbau seluruh warga agar tidak mudah percaya isu-isu yang menyesatkan dan tetap menunggu kabar maupun instruksi dari pemerintah, disamping tetap meningkatkan kewaspadaan."
"Kami juga mengoptimalkan siskamling untuk berjaga-jaga apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,"imbuhnya.

Tak hanya di Reco, di desa Candiyasan dan Kapencar, yang wilayahnya masuk  dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) II, aktivitas masyarakat juga berjalan seperti biasa. Warga yang bermata pencaharian sebagai petani pun masih pergi keladang-ladang mereka yang kebanyakan terletak di kaki gunung sindoro."biasa mawon mas, sing penting manut kalih kabar saking pemerintah (biasa saja mas, yang penting patuh pada instruksi yang dikeluarkan pemerintah), tutur Misrinah( (35), petani asal Kabelukan, Candiyasan.

Camat Kertek, Prayitno mengatakan bahwa pihaknya selalu berkoordinasi aktif dengan pihak-pihak yang terkait termasuk koordinasi langsung dengan Pos Pengamatan Gunung Sindoro di desa Gentingsari, Kecamatan Bansari, Temanggung, " kami mengharapkan masyarakat tidak perlu was-was dan panik, karena setiap perkembangan mengenai aktivitas gunung sindoro akan selalu kami update."kata Prayitno. 


07 Desember 2011

KERTEK SIAPKAN 7 JALUR EVAKUASI

WONOSOBO - Sehubungan dengan naiknya status Gunung Sindoro menjadi waspada, Kecamatan Kertek telah menyiapkan langkah-lagkah antisipasi. Salah satunya dengan menyiapkan 7 jalur evakuasi bagi warga 9 Desa yang wilayahnya termasuk dalam Kawasan Rawan Bencana II dan I. Hal tersebut terungkap dalam rapat koordinasi tanggap bencana yang dipimpin lagsung oleh Bupati Wonosobo, Kholiq Arif di Pendopo Bupati Wonosobo, pada hari Kamis (8/12).

Hadir dalam rapat, seluruh unsur Muspida, Tim SAR Kabupaten, ORARI, RAPI, SKPD terkait, dan unsur muspika dan kepala desa yang wilayahnya masuk dalam Kawasan Rawan Bencana Gunung Sindoro yaitu dari Kejajar, Garung, Mojotengah, Wonosobo, dan Kertek.

Dalam paparannya kepada Bupati, Camat Kertek, Prayitno, juga mengungkapkan 9 lokasi yang akan dijadikan sebagai tempat pengungsian warga apabila terjadi letusan gunung sindoro yaitu Gedung serba guna kelurahan Kertek; Komplek Puskesmas Kertek I; Pasar Binangun; Balai Latihan Kerja di Ngadikusuman; Gedung olahraga Bojasari; Gedung serbaguna Wringinanom; Gedung serbaguna Ngadikusuman; Gedung serbaguna Sindupaten; dan Gedung serbaguna Bojasari."Disamping lokasi pengungsian yang disebutkan tadi, kami juga sudah menyiapkan lokasi pengungsian bagi hewan ternak milik warga,"ungkap Prayitno.

Selain lokasi untuk evakuasi, Kecamatan Kertek juga telah menginventarisir sumber-sumber daya yang diperlukan dalam kegiatan tanggap bencana, "Kami telah mengkoordinasikan sebanyak 1.186 personel yang terdiri dari TNI-POLRI, Linmas Desa, dan Tim UPBD Kecamatan serta 52  tenaga medis dan 3 mobil ambulance yang siap digerakkan sewaktu-waktu apabila terjadi letusan."tambahnya.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Wonosobo menghimbau kepada seluruh masyarakat agar tetap tenang," Jangan terpancing kabar dan isu-isu yang tidak jelas yang dapat meresahkan masyarakat."imbau Kholiq. Disamping itu, Ia juga meminta kepada awak media untuk memberikan informasi yang valid kepada masyarakat," para wartawan agar menyajikan informasi yang benar dan jangan sampai menimbulkan kepanikan di masyarakat, imbuhnya.

Sampai dengan berita ini dimuat, status Gunung Sindoro masih belum berubah dari yaitu "WASPADA" sesuai dengan surat edaran dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi ( PVMBG) pada hari Senin (6/12) lalu.


06 Desember 2011

RAKOR MUSPIKA KERTEK, WARGA DIMINTA TETAP TENANG

KERTEK-Menyusul pernyataan yang dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi hari Senin (5/12) pukul 20.00 WIB mengenai status Gunung Sindoro yang dinaikkan dari normal menjadi waspada, Muspika Kertek menggelar rapat koordinasi antisipasi bencana sindoro pada hari Selasa malam (6/12) kemarin.

Rapat yang diadakan di Aula Kecamatan Kertek ini dihadiri oleh Muspika, Tim UPBD Kertek ,Puskesmas Kertek, Kades, dan Perangkat Desa Se-Kecamatan Kertek.

Dalam rakor tersebut ditetapkan 9 desa yang terletak di Kawasan Rawan Bencana (KRB) yaitu KRB II yang berjarak 5 kilometer dari puncak sindoro meliputi Reco, Pagerejo, Candiyasan, Kapencar, Tlogomulyo, dan Damarkasiyan. Serta KRB I yaitu yang berjarak 5-8 kilometer dari puncak meliputi Purwojati, Purbosono, dan Candimulyo. Selain itu juga disusun skenario apabila terjadi erupsi Gunung Sindoro meliputi sinyal bahaya, proses evakuasi, titik evakuasi, logistik, tenaga medis dan personel. "Kami akan mengoptimalkan semua sumber daya yang ada untuk mengantisipasi terjadinya bencana ini," tutur Camat Kertek, Prayitno.

Disamping itu, pihak kecamatan juga meminta partisipasi seluruh masyarakat Kertek untuk dalam mengantisipasi terjadinya bencana ini," Kami sangat mengharapkan sumbangsih seluruh masyarakat Kertek baik tenaga, pikiran maupun materi,"imbuh Prayitno.
"Kami juga menghimbau agar masyarakat tetap tenang dan jangan mempercayai isu-isu yang yang dapat meresahkan masyarakat,"pungkas pria telah berpengalaman menangani bencana Merapi ini.


27 November 2011

MERDI DESA MENYAMBUT 1 MUHARAM 1433 H

KERTEK-Kedatangan tahun baru Hijriyah 1 Muharam 1433 atau dalam penanggalan jawa disebut dengan 1 Suro disambut masyarakat dengan berbagai cara dan atraksi yang menarik.
Di Desa Candiyasan Kecamatan Kertek, kedatangan Tahun Baru Islam ini diisi dengan acara Merdi Deso. "Acara merdi deso merupakan perwujudan rasa syukur warga candiyasan terhadap berkah yang diberikan selama satu tahun ini dan diharapkan pada tahun-tahun kedepan dapat lebih baik lagi, ujar Sekdes Candiyasan, Sudiyono."

Acara yang digelar pada hari Senin ( 28/11 ) ini diawali dengan ziarah ke makam leluhur pendiri Desa Candiyasan yaitu Ki Ageng Rantamsari dan Ki Ageng Candiyasan yang terletak di Dusun Jurang Jero Desa Candiyasan dengan membawa berbagai macam sesaji seperti nasi merah, ingkung ayam, ketan, dan berbagai macam jajanan pasar serta hasil bumi dari desa setempat. 
"Setelah doa bersama yang dipimpin oleh tokoh adat, seluruh sesaji akan dikirabkan keliling desa dan disantap bersama oleh masyarakat,"imbuh Sudiyono.

Masyarakat Desa Candiyasan terlihat sangat antusias dalam mengikuti acara ini, dengan menggunakan bermacam-macam kostum dan riasan, mereka tampak ikut berpawai dengan membawa gunungan hasil bumi. Tak ketinggalan, kelompok-kelmpok kesenian yang ada di Desa Candiyasan juga ikut menampilkan atraksinya seperti kuda lumping, barongan, dan reog.
"Semua unsur masyarakat, unsur agama serta aliran kepercayaan kami libatkan dalam acara ini," pungkasnya..

Hadir dalam acara ini segenap unsur Muspika, Tokoh Agama, Tokoh Adat dan tamu undangan dari desa-desa sekitar, bahkan terlihat beberapa wisatawan asing ikut mengabadikan momen budaya ini.

Rangkaian acara merdi deso ini selanjutnya akan ditutup dengan pagelaran tari lengger dan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk yang diadakan pada malam harinya.

Desa Candiyasan merupakan salah satu desa di wilayah kecamatan Kertek yang kaya akan keragaman. Disamping keragaman budayanya, di desa ini juga terdapat berbagai macam agama dan aliran kepercayaan yang kesemuanya dapat hidup berdampingan secara harmonis.






24 November 2011

JALAN SANTAI HUT PGRI KE-66

KERTEK- Peringatan HUT PGRI KE-66 dan Hari Guru Tahun 2011 yang jatuh setiap tanggal 25 November diperingati dengan berbagai kegiatan. Di Kecamatan Kertek, peringatan tersebut dimeriahkan dengan acara jalan santai. 

Acara yang diikuti oleh seluruh guru yang mengajar di sekolah-sekolah se wilayah Kertek ini dilepas langsung oleh Wakil Bupati Wonosobo, Hj. Maya Rosida, MM di halaman SD 1 Kertek. Dalam kesempatan tersebut juga hadir Ketua PGRI Kabupaten Wonosobo, Ketua PGRI Kecamatan Kertek serta Muspika Kecamatan Kertek.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Wonosobo menekankan kepada para guru untuk terus meningkatkan profesionalisme, " Saya harapkan kegiatan ini menjadi momentum strategis bagi jajaran PGRI untuk bersama-sama berbenah diri, memperbaiki kinerja, mempererat tali silaturahmi serta meningkatkan kualitas kesehatan sumber daya manusianya, sesuai dengan tema HUT PGRI dan Hari Guru tahun 2011 ini yaitu Mengembangkan Peran Strategis Guru untuk Membangun Karakter Bangsa. "

Pada acara tersebut juga dilakukan penanaman pohon penghijauan di sekitar halaman sekolah oleh Wakil Bupati Wonosobo, Ketua PGRI Kabupaten Wonosobo dan jajaran Muspika Kecamatan Kertek.


15 November 2011

TRONTON BLONG, 1 TEWAS 2 LUKA-LUKA

KERTEK- Jalur Kertek-Kledung kembali memakan korban. Sebuah truk tronton bernopol AG 8672 DA bermuatan pipa paralon diduga mengalami rem blong di Km.5 jalur Kertek-Kledung atau tepatnya di Dusun Plumbanan, Purwojati Kecamatan Kertek pukul 17.00 WIB. 

Menurut Kanit Laka Lantas Ipda Dono Mulyono,  truk yang sarat muatan tersebut melaju kencang dari arah Kledung menuju Wonosobo, "Diduga truk mengalami rem blong sehingga laju kendaraan menjadi tidak terkendali, kemudian menyambar 2 sepeda motor yang melaju di depannya lalu menabrak mobil pick up sebelum terguling di badan jalan."
Ironisnya, kejadian tersebut hanya berjarak sekitar 50 meter dari jalur penyelamat. "Kemungkinan sopir panik dan tidak sempat mengarahkan kendaraannya masuk ke jalur penyelamat,"imbuh Dono.

Sopir truk bernama Imam Safi'i (32) asal Nganjuk, Jawa Timur tewas seketika terjepit kabin truk yang ringsek. Sementara 2 pengendara motor Ardiyanto (28), warga Brokoh, Pancurwening dan Muklasno (51), warga Karangkajen, Wonosobo, mengalami luka berat dan masih dirawat intensif di Rumah Sakit Islam Wonosobo.
"Korban luka atas nama Ardiyanto kondisinya sudah stabil dan hanya mengalami patah tulang tangan kanan, sedangkan Muklasno sampai sekarang belum sadarkan diri karena mengalami gegar otak berat,"tutur dokter RSI Siti Chodariyah.

Kejadian tersebut sempat memacetkan arus lalu lintas karena banyaknya warga yang memadati lokasi untuk menyaksikan bangkai truk nahas tersebut. Disamping itu juga karena lokasi kejadian berada di jalur utama Wonsobo-Semarang yang cukup ramai. Sampai dengan berita ini diturunkan, proses evakuasi badan truk masih terus berlangsung..

14 November 2011

KLINIK BERHENTI MEROKOK UNTUK MASYARAKAT PEDESAAN

BAGI sebagian orang, merokok bagaikan sebuah kebutuhan. Banyak pecandu rokok yang beranggapan tak bisa hidup tanpa rokok. Bahkan tak jarang mereka bisa menghabiskan berpak-pak rokok dalam satu hari.
Namun tanpa kita sadari, 4000 jenis racun yang terkandung dalam rokok tak hanya meracuni diri kita namun juga meracuni lingkungan sekitar kita.

Berkaitan dengan segala permasalahan seputar merokok, Pemerintah Kabupaten Wonosobo telah membuka Klinik Berhenti Merokok dan Penyakit Tidak Menular di 10 Kecamatan yaitu Kejajar, Watumalang, Garung, Kaliwiro, Selomerto, Wonosobo, Wadaslintang, Kertek, Kalikajar, dan Sapuran. Sedangkan untuk kecamatan kertek, Klinik ini bertempat Puskesmas Kertek II, di desa Reco.
"Awal dibentuknya klinik berhenti merokok ini sebenarnya sudah sejak bulan Juni lalu, namun di kertek baru kami awali pada awal bulan November setelah musim tanam tembakau,"ungkap Kepala Puskesmas Kertek II, dr. Pratiwi Amindari.
Klinik yang didanai dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ini bertujuan untuk mengkampanyekan bahaya merokok dan membantu warga yang ingin berhenti merokok," tidak ada unsur paksaan ataupun larangan, namun kami ingin membangun kesadaran masyarakat akan bahaya merokok, terutama efek rokok bagi perokok pasif."imbuh Pratiwi.
Bagi masyarakat pegunungan, merokok hampir merupakan hal yang umum. Tak hanya kamu laki-laki saja, kaum perempuanpun tak canggung-canggung untuk mengikuti kebiasaan merokok ini. Bahkan menurut survei yang dilakukan Puskesmas Kertek II, 8 dari 10 anak usia 13-15 tahun telah merokok.

METODE

Metode yang digunakan oleh klinik ini ialah dengan cara sosialisasi, baik secara langsung maupun melalui kader-kader kesehatan desa dan PKK. Sedangkan bagi warga yang menghendaki konseling berhenti merokok, telah disediakan ruangan konseling di Puskesmas Kertek II yang telah dilengkapi dengan alat spyrometer untuk mengecek kondisi paru-paru pasien. Selain itu juga ada 3 orang petugas yang siap untuk membantu dalam konseling tersebut.
"bagi warga masyarakat yang menghendaki untuk konseling berhenti merokok, tidak dipungut biaya, dan bagi masyarakat yang akan memeriksakan kesehatan paru-parunya hanya akan dikenakan retribusi," tambahnya pula.
Mendorong masyarakat untuk berhenti merokok memang bukanlah hal yang mudah, apalagi bagi orang yang sudah dalam taraf kecanduan. Oleh karena itu dibutuhkan niat yang kuat dan juga ketelatenan dalam menjalankannya.
"konseling berhenti merokok bagi tiap-tiap pasien akan kami lakukan secara bertahap karena memang tidak mudah untuk menghentikan kebiasaan merokok, apalagi bagi yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun,"pungkasnya.






13 November 2011

15 RUMAH LULUH LANTAK DISAPU PUTING BELIUNG

KERTEK-Sedikitnya 3 rumah rusak berat dan 12 rusak ringan disapu angin puting beliung pada hari minggu malam ( 13/11). Ketiga rumah yang rusak berat tersebut adalah milik Nurhadi, Kartoretno, dan Sukir yang semuanya terletak di dusun Yososari, Desa Reco. Salah seorang korban, Giyanti ( 35) menuturkan bahwa kejadiannya berlangsung sangat cepat," saya hanya mendengar suara gemuruh dan tiba-tiba atap rumah saya sudah lepas tertiup angin." Padahal pada saat itu cuaca cerah,"imbuhnya.
Menurut saksi mata, Nurhadi(50) angin puting beliung tersebut berbentuk seperti tornado, dan bergerak dengan kecepatan tinggi,"bentuknya seperti tornado, dan bergerak dari arah selatan dengan sangat cepat, kira-kira sekitar 100 km/jam, bahkan sampai ada pengendara sepeda motor yang terpental."
Tim UPBD Kecamatan Kertek yang mendapat laporan langsung meluncur ke tempat kejadian untuk melokalisir serta mendata kerusakan yang terjadi,"kami sampai ke lokasi sekitar setengah jam setelah kami mendapatkan laporan",tutur ketua UPBD Kertek H. Didik.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun kerugian yang diderita oleh warga cukup besar,"kerugiannya sekitar 10 juta."ungkap kades Reco Hely Kurniyawan.
Dari kelimabelas rumah yang mengalami kerusakan, sebagian sudah diperbaiki secara swadaya oleh pemilik rumah, namun untuk rumah yang mengalami kerusakan yang parah masih menunggu bantuan baik dari pemerintah desa maupun dari pemerintah kecamatan.
"untuk rumah yang rusak berat, kami masih menunggu bantuan material baik dari masyarakat maupun pemerintah, sedangkan untuk perbaikannya akan kami lakukan secara gotong -royong,"imbuh Hely.
Saat ini, sebagian warga yang rumahnya belum diperbaiki masih menghuni bagian rumah lain yang masih bisa digunakan.




08 November 2011

EVALUASI ALOKASI DANA DESA TAHUN 2011

KERTEK-Penggunaan Alokasi Dana Desa tahun 2011 Kecamatan Kertek yang digelontorkan secara bertahap oleh Pemerintah Kabupaten Wonosobo sejak medio Juni lalu dievaluasi. Hal itu berkaitan erat dengan pelaksanaan program-program pembangunan yang dibiayai oleh ADD.
"Untuk evaluasi meliputi adminstrasi, peng-SPJ-an dan juga fisik proyek bagi kegiatan pembangunan infrastruktur."ungkap Kasi Pemerintahan Kecamatan Kertek, Tukirman.
Untuk pelaksanaan evaluasi, Kecamatan Kertek telah membentuk tim yang beranggotakan semua seksi di kecamatan kertek. Tim ini bertugas untuk terjun langsung ke lapangan guna memeriksa kelengkapan administrasi serta hasil pembangunan di tiap-tiap desa.
Evaluasi yang diadakan secara periodik ini bertujuan untuk memonitor pelaksanaan kegiatan yang didanai oleh ADD baik bidang fisik infrastruktur maupun bidang pemberdayaan masyarakat. Disamping itu juga untuk meminimalisir penyimpangan-penyimpangan dalam penggunaan Alokasi Dana Desa. "kami mengharapkan pengelolaan ADD pada tahun ini tidak menyisakan masalah dan tepat sasaran," imbuh Tukirman.
Dalam evaluasi yang telah berlangsung sejak hari Selasa (8/11) lalu ini tidak ditemukan penyimpangan-penyimpangan yang berkaitan dengan pengelolaan ADD, hanya beberapa desa yang pembangunannya belum dlaksanakan karena kendala cuaca seperti Desa Candiyasan, "secara umum tidak ada penyimpangan, hanya ada kekurangan di bidang administrasi dan peng SPJ-an saja,"tambahnya.
Kecamatan Kertek pada tahun ini mendapatkan Alokasi Dana Desa sebesar 2,2 miliar yang telah dicairkan dalam 2 tahap, namun ada satu desa yaitu Sudungdewo yang belum bisa mencairkan ADD tahap 2 karena belum menyetorkan SPJ ADD tahap I. Keterlambatan itu dapat menyebabkan desa yang bersangkutan mendapatkan penalti berupa pengurangan jatah ADD sebesar 15% pada tahap berikutnya.
"Kami masih terus membina desa yang bersangkutan agar dapat menyelesaikan SPJnya mengingat tahun anggaran yang sudah hampir berakhir," pungkasnya.




06 November 2011

INAUGURASI KECAMATAN KERTEK

KERTEK-Meskipun terbilang agak terlambat, pada hari Sabtu (5/11) kemarin dilangsungkan acara pisah sambut camat kertek dari pejabat lama Agus Wibowo, S.Sos kepada pejabat baru Prayitno,S.Sos.M.Si.
Acara yang diadakan di aula kecamatan kertek ini dihadiri oleh Muspika, Kepala Dinas/Intansi se-kecamatan kertek, perangkat desa, segenap tokoh masyarakat serta tokoh agama di wilayah kecamatan kertek.
Dalam sambutannya, pejabat lama Agus Wibowo,S.Sos menyampaikan bahwa masih banyak program-program yang belum terlaksana selama masa tugasnya di kecamatan kertek," Program jaring ekonomi pedesaan dan program kota kertek kami harapkan bisa terus berlanjut untuk kemajuan masyarakat kertek dimasa yang akan datang." kami juga mohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat apabila masih belum maksimal dalam memimpin masyarakat kertek,"tambah Agus yang saat ini bertugas sebagai Kepala Bagian Humas Setda Kabupaten Wonosobo.
Pada kesempatan yang sama, Camat Kertek yang baru menyampaikan bahwa titik berat program ke depan ialah pemberdayaan masyarakat kertek,"kami mengharapkan seluruh komponen masyarakat kertek untuk dapat mengkolaborasikan diri dengan mengedapankan prinsip inkrementalisme untuk membangun masyarakat kertek yang lebih baik." ungkap Prayitno.
"Dalam prinsip inkrementalisme ini, semua proses pembangunan akan lebih bersifat bottom up sehingga nasib dan perkembangan kecamatan kertek akan jauh lebih tergantung pada masyarakat kertek itu sendiri ketimbang kepada pemerintah kecamatan,"lanjutnya.
Inkrementalisme adalah suatu prinsip kebijakan publik dimana setiap pengambilan keputusannya didasarkan atas fakta dan realita yang ada, bukan semata-mata didasarkan pada perasaan atau insting semata, salah satu caranya ialah dengan menggali permasalahan dan kebutuhan masyarakat secara langsung dari masyarakat.
"Dengan metode ini diharapkan masyarakat menjadi semakin mandiri dan berdaya,"pungkas pejabat yang sedang melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Diponegoro Semarang ini.






03 November 2011

WASPADA CUACA EKSTRIM

Musim penghujan nampaknya telah mulai menyambangi kawasan Wonosobo. Kecamatan Kertekpun tak luput dari guyuran hujan setiap harinya. Tak hanya itu, hujan yang turunpun seringkali disertai dengan angin kencang dan petir. Menurut prakiraan dari BMKG, kondisi ekstrim ini terjadi sebagai dampak dari fenomoena alam La Nina dan diperkirakan akan terus berlangsung hingga akhir tahun 2011.
Dengan kondisi geografis yang terletak di lereng gunung sindoro, Kecamatan Kertek menjadi salah satu wilayah rawan bencana di Kabupaten Wonosobo. Angin puting beliung, tanah longsor kerap melanda daerah ini terutama pada musim penghujan seperti yang terjadi beberapa waktu terakhir. Dalam kurun waktu 1 tahun terakhir saja sudah tercatat 5 kali bencana alam.
Kecamatan Kertek pun tak mau kecolongan lagi. Disamping pembentukan Unit Penanggulangan Bencana yang telah dikukuhkan pada 30 Juni lalu, pihak kecamatan juga terus memantau dan menghimbau masyarakat untuk selalu waspada akan terjadinya bencana. " kami selalu mewanti-wanti masyarakat agar selalu waspada apabila ada gejala-gejala alam yang ekstrim seperti ini," tutur Kasi Trantib Kecamatan Kertek,Hartono."kamipun selalu berkoordinasi aktif dengan Tim UPBD Kertek serta perangkat desa yang berada di daerah rawan bencana,"imbuhnya.

JALUR MAUT

Tak hanya bencana alam saja, bagi pengendara kendaraan yang melintas di Jalur Wonosobo-Temanggung hendaknya meningkatkan kewaspadaan. Hal ini disebabkan kondisi jalan di daerah ini yang relatif sempit, menurun tajam serta berkelak-kelok sepanjang 20 km (terutama dari arah Temanggung). Kondisi tersebut akan lebih parah apabila turun hujan karena membuat jalan menjadi licin serta kabut yang sering turun di daerah ini sehingga mengakibatkan jarak pandang terbatas. " Saat kabut turun jarak pandang bisa berkurang sampai hanya sekitar 5-7 meter saja," tutur Aris ( 28), salah seorang pengendara sepeda motor asal Temanggung.
Jalur Temanggung-Wonosobo memang kerap kali memakan korban, rem blong, sopir mengantuk dan pengendara yang belum mengenal medan adalah penyebab yang mendominasi terjadinya kecelakaan di jalur ini.
Disepanjang jalur ini sebenarnya ada beberapa titik rest area yang dapat digunakan bagi pengendara yang kelelahan atau terjebak dalam cuaca yang tidak mendukung seperti di Rumah Makan Kledung Pass, Rumah Makan Joglo, dan Rumah Makan Gayatri. Pada jalur ini juga tersedia jalur penyelamat yang disediakan bagi kendaraan yang mengalami kerusakan, tepatnya di kawasan desa Candimulyo atau sekitar km.15 dari arah Temanggung.

30 Oktober 2011

HARGA HEWAN KURBAN MERANGKAK NAIK

KERTEK-Peringatan hari raya Idul Adha 1432 H atau yang lebih terkenal dengan istilah hari raya kurban akan jatuh pada tanggal 6 November mendatang. Hal ini mendatangkan berkah tersendiri bagi para peternak hewan kurban seperti kambing, domba dan sapi. Betapa tidak, setiap menjelang hari raya kurban seperti ini, harga hewan kurban akan mengalami kenaikan yang signifikan seperti diugkapkan oleh Suroso (60), salah seorang penjual hewan kurban di Kecamatan Kertek."dibandingkan hari biasa, kenaikannya cukup tajam mas, untuk kambing kelas A mencapai 1.700.000,- pada hari biasa hanya 1.250.000,-,sedangkan untuk sapi bisa mencapai 7 juta-an,"ungkap pria asli kertek ini.
Kenaikan harga sampai sekitar 20% ini tidak lepas dari meningkatnya permintaan hewan menjelang hari raya kurban."untuk hari-hari biasa saya hanya bisa menjual rata-rata 3-5 ekor kambing,namun untuk saat ini saja sudah ada pesanan kambing 20 ekor dan sapi 4 ekor,"imbuh pria yang sudah 7 tahun menekuni bisnis ini."kadang saya sampai kekurangan stok mas " tambahnya pula.

TERUS MENINGKAT

Jumlah permintaan hewan kurban dari tahun ke tahun pun terus meningkat, hal ini disebabkan karena minat dan daya beli masyarakat yang ingin berkurban semakin tinggi,"untuk hari raya kurban tahun 2009 saya hanya bisa menjual sebanyak 50 ekor kambing dan 3 ekor sapi, tahun 2010 sekitar 70 kambing dan 5 sapi, kemungkinan tahun ini bisa lebih dari itu, apalagi panen tembakau tahun ini cukup sukses"tutur Suroso.

Menurut Suroso, usaha yang dilakoninya ini cukup membutuhkan ketelatenan karena biasanya pembeli tidak langsung membawa hewan yang dibeli, namun masih dititipkan hingga H-1 Idul Adha,"Selama masih dititipkan, sepenuhnya masih menjadi tanggungjawab saya, baru pada H-1 saya antar sampai kepada si pemesan" ungkap pria yang pada hari-hari biasa juga menjual kambing untuk keperluan aqiqah ini.



24 Oktober 2011

TIPS RUMAH SEHAT SEDERHANA

Salah satu cara untuk menghindari terjangkit penyakit adalah dengan menempati rumah sehat. Adalah keinginan setiap orang untuk memiliki sebuah rumah yang nyaman sebagai tempat persinggahan terakhir. Seperti kata pepatah bahwa rumahku adalah istanaku. Kondisi rumah tinggal yang sehat akan menimbulkan kenyamanan serta kesehatan pemiliknya. Mungkin kita bisa melihat kembali apakah rumah kita bisa dikategorikan sebagai rumah yang sehat atau tidak.

Jika kita merasa bahwa rumah kita adalah termasuk golongan rumah sehat. Tahukah kita apa itu yang dimaksud dengan rumah yang sehat? Rumah sehat adalah rumah yang memenuhi syarat-syarat kesehatan. Dengan menempati rumah yang sehat diharapkan penghuninya terhindar dari bibit penyakit. Hal ini disebabkan aktifitas rutin kita adalah dirumah, baik itu mandi, makan dan bersantai. Memiliki jiwa dan raga yang sehat diharapkan dimulai pula dengan memiliki lingkungan yang sehat yaitu rumah tinggal kita. Menurut peraturan ada beberapa syarat yang harus dimiliki oleh sebuah rumah untuk disebut sebagai rumah yang sehat. Sebuah rumah yang sehat harus memiliki ventilasi udara yang cukup, sehingga ada sirkulasi udara yang baik. Selain itu ruangan yang ada harus cukup sebagai ruang kamar tidur bagi orang tua dan anak-anak. Rumah yang sehat juga harus memiliki pekarangan dan tanaman yang hijau. Dapur juga harus bersih sebagai tempat mengolah makanan. Setiap rumah yang sehat juga harus memiliki jamban atau kamar mandi yang bersih. Disekeliling rumah harus terdapat saluran air yang baik dan airnya mengalir.

Ada banyak manfaat yang kita dapatkan jika kita menempati rumah sehat. Sirkulasi udara yang baik akan menyebabkan bertukarnya udara di dalam rumah sehingga keadaan di dalam rumah tidak menjadi pengap dan sumpek. Bersihnya udara di dalam rumah akan menjadikan penghuninya hidup sehat dan nyaman. Saluran air yang mengalir akan membuat bibit penyakit tidak bertahan lama. Pengolahan makanan yang sehat di ruangan yang sesuai juga menjaga kita dari berbagai penyakit.

Nah, sekarang saatnya kita menjaga agar rumah kita termasuk sebagai rumah yang sehat. jagalah agar suasana rumah senantiasa bersih. Adakan jadwal yang tetap untuk melakukan suatu kegiatan rumah tangga. Buatlah daftar yang baik apa saja kegiatan yang rutin yang harus dilakukan setiap hari, setiap minggu, dan seterusnya. Rutinkan membersihkan kamar mandi dan jamban sehingga tidak terlalu lama dibiarkan kotor. Pastikan saluran air disekeliling rumah selalu mengalir. Nah, semoga rumah kita termasuk sebagai rumah sehat.

23 Oktober 2011

KORBAN KEBAKARAN DI SUDUNGDEWO DAPAT BANTUAN

KERTEK-Korban musibah kebakaran yang terjadi di Kecamatan Kertek beberapa waktu lalu mendapatkan bantuan. Kusnan (55), warga dusun Ngelo, desa Sudungdewo, Kecamatan Kertek yang rumahnya hangus terbakar, hari ini mendapatkan bantuan berupa peralatan rumah tangga, matras, pakaian, dan peralatan sekolah yang berasal dari Dinas Sosial Kabupaten Wonosobo, Bagian Kesra, PMI dan Kecamatan Kertek serta dari Tim UPBD Kecamatan Kertek.
Penyerahan bantuan secara simbolis dilakukan oleh Kasi Kessos Kecamatan Kertek Bangun Wijiatmaka, SH yang disaksikan oleh Kepala Desa Sudungdewo, Ketua Tim UPBD Kecamatan Kertek dan segenap perangkat desa Sudungdewo.
"Kami berharap dengan adanya bantuan ini, dapat meringankan bantuan korban serta keluarganya," tutur Bangun.
Dalam kesempatan itu juga diserahkan bantuan berupa sejumlah uang yang akan digunakan untuk membangun kembali rumah korban yang terbakar."Nilainya tak seberapa, namun semoga dapat berguna bagi pembangunan rumah korban,"imbuhnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, musibah kebakaran yang terjadi 5 September lalu tersebut disebabkan oleh api dari tungku yang digunakan untuk memasak. Tak ada korban jiwa, namun kebakaran tersebut menghanguskan rumah korban beserta isinya dan sampai saat ini korban beserta keluarganya masih menumpang di rumah salah seorang keluarganya yang berada tak jauh dari rumahnya. Sedangkan untuk perbaikan rumahnya akan dilakukan secara bergotong-royong oleh warga Desa Sudungdewo."Untuk perbaikan rumah akan kami laksanakan secara bergotong royong dalam waktu dekat ini." ungkap Kepala Desa Sudungdewo,Khomsun.

19 Oktober 2011

HARI CUCI TANGAN SEDUNIA

KERTEK-Sebagai bentuk dukungan pada kampanye Mencuci Tangan Menggunakan Sabun yang digaungan oleh PBB pada tahun 2008 lalu, pada hari ini Kecamatan Kertek menggelar kegiatan cuci tangan bersama dalam peringatan hari cuci tangan sedunia yang jatuh setiap tanggal 15 Oktober.
Kegiatan yang diprakarsai oleh Tim Penggerak PKK Kecamatan Kertek ini mengambil tempat di SD 1 Kertek, SD 2 Kertek dan TK Pertiwi Kertek dengan dipimpin langsung oleh Ketua TP PKK Kecamatan Kertek Sri Sulistiyati.
Dalam acara yang diikuti oleh siswa dan guru ini diajarkan teknik mencuci tangan yang benar dengan menggunakan sabun dan air bersih kepada para siswa. Ketua TP PKK Kecamatan Kertekpun tak canggung-canggung untuk langsung memberikan contoh cuci tangan yang benar kepada para siswa. Para siswapun terlihat sangat antusias saat mengikuti arahan mencuci tangan secara benar.
"Tujuan dari kegiatan ini ialah untuk menanamkan kebersihan sejak dini kepada generasi penerus, terutama kepada siswa-siswa sekolah,".tutur Sri Sulistiyati. "Disamping itu juga untuk mengurangi resiko penyakit akibat kurangnya kesadaran akan kebersihan,"imbuhnya.
Dalam acara tersebut, wanita yang sehari-hari bekerja di Puskesmas Wonosobo itu juga berpesan kepada para guru agar selalu mengingatkan para siswa agar membiasakan cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah buang air, selain itu juga agar selalu menjaga kebersihan lingkungan sekitar."
Kampanye mencuci tangan dengan sabun, memiliki beragai tujuan. Selain tujuan yang telah disebutkan diatas, kampanye ini juga dimaksudkan sebagai upaya untuk peningkatan pembangunan fasilitas sanitasi disekolah. Menurut Unicef kurangnya akses untuk air bersih mengakibatkan penurunan tingkat kehadiran anak perempuan disekolah saat mereka memasuki masa puber, karena tidak adanya fasilitas sanitasi yang memadai. Akses air bersih dan sanitasi ditenggarai merupakan dasar penting untuk kehidupan anak-anak diseluruh dunia dilihat dari segi kesehatan, kelangsungan hidup, dan rasa penghargaan terhadap diri mereka. Penyediaan air bersih dan perilaku sanitasi yang baik disekolah juga menjadi salah satu cara untuk mencapai Tujuan Pembangunan Millenium ( MDG's).

18 Oktober 2011

12 TAHUN SMAKER

KERTEK- Kemeriahanpun terjadi ketika para guru mulai beraksi di panggung. Suasana tersebut terjadi ketika para guru menampilkan sebuah drama musikal bertajuk "ENTHIT" pada pentas seni yang diadakan dalam rangka HUT SMA Negeri 1 Kertek ( SMAKER) yang ke-12. Dalam pentas seni tersebut juga ditampilkan berbagai macam kreatifitas siswa seperti band, tari tradisional, perkusi, dan juga teater.
Para siswapun mengaku mempersiapkan dengan serius untuk pentas seni kali ini. "Kami sudah latihan sejak sebulan yang lalu mas," tutur Dimas (17) siswa kelas 12 yang pada pentas seni kali ini menampilkan kesenian kuda kepang bersama teman-teman satu kelasnya, lengkap dengan kostum dan riasan wajah ala embleg.
Bukan hanya pentas seni, untuk memeriahkan perayaan dengan tema " GALANG KEKOMPAKAN DAN RAIH PRESTASI" tersebut juga digelar berbagai macam kegiatan antara lain senam bersama civitas akademika, kebersihan lingkungan dan penghijauan, pentas seni, donor darah, parade band SMP, dan juga pembuatan SIM massal yang akan diselenggarakan pada hari Sabtu (22/10)mendatang.
Kegiatan pada tahun ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena tidak hanya diisi dengan kegiatan yang bersifat hiburan namun juga diisi dengan kegiatan sosial,"HUT pada tahun ini sedikit berbeda karena disamping untuk mengembangkan kreativitas siswa juga untuk memupuk jiwa dan rasa kepekaan sosial dikalangan siswa,"ungkap Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Kertek Sabar Riyanto, S.Pd, MT. " khusus untuk hari ini diselenggarakan pentas seni dan donor darah,"imbuhnya.
Kepedulian sosial dari para siswapun dapat dibuktikan dengan banyaknya darah yang terkumpul dari kegiatan donor darah pada hari ini, " Semuanya terkumpul 30 kantong darah yang terdiri dari golongan O, A, B, dan AB.Namun paling banyak O yaitu 20 kantong," ungkap Asri(47) petugas dari PMI Wonosobo.





16 Oktober 2011

PENDATAAN PROFIL DESA JALAN TERUS

KERTEK- Pelaksanaan pendataan profil desa di Kecamatan Kertek sampai dengan saat ini telah mencapai hasil yang cukup signifikan. Dari 21 desa/ kelurahan yang terdapat di wilayah kertek. 20 diantaranya sudah mulai melaksanakan pendataan. " secara umum semuanya sudah melaksanakan namun tinggal satu yaitu desa Purwojati yang baru mulai hari ini,"ungkap Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Kertek, Tukirman."bahkan di beberapa desa seperti Bojasari dan Sumberdalem, pendataan sudah mencakup sekitar 10 % dari jumlah warga, diharapkan pada akhir november pendataan sudah selesai" imbuhnya.
"Sedangkan untuk pembiayaan, seluruhnya dibebankan pada APBDes masing-masing desa meliputi biaya pengadaan blangko dan honor pendata."
Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya, program yang dimaksudkan untuk membentuk basis data yang valid ini sebenarnya sudah digulirkan sejak medio mei 2011 lalu, namun saat ini baru memasuki tahap pendataan , sedangkan untuk tahapan input data direncanakan dapat mulai dilaksanakan pada bulan desember mendatang." Untuk sementara, proses input data profil desa belum dapat dilaksanakan karena software input datanya masih dalam tahap penyempurnaan, "terang Kasubbid Pengelolaan Aset Desa BPMD Kabupaten Wonosobo, Erna Yuniawati, AP.
Proses pendataan profil desa di kecamatan Kertek tidak mengalami kesulitan yang berarti karena sebelum mendata, masing-masing petugas pendata telah terlebih dahulu mendapatkan pelatihan di Kecamatan,"ternyata tidak sulit mas, hanya daftar pertanyaannya yang banyak dan tulisannya yang agak susah dibaca," tutur Rida(20) salah seorang petugas pendata asal desa Bojasari.
Kecamatan juga turut memantau dan turun langsung ke lapangan guna membantu kelancaran program ini ,"petugas dari Kecamatan sering datang untuk membantu kalau ada kesulitan, mereka juga on call kalau sewaktu-waktu dibutuhkan,"imbuhnya sembari mendata salah seorang warga.
Profil desa, apabila dijalankan dengan maka akan menjadi sumber data yang benar-benar valid, maka tidak akan terjadi lagi bantuan yang salah alamat ataupun pembangunan yang tidak merata.

MOHON DIRI


ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABARAKATUH

Sehubungan dengan berakhirnya masa tugas kami sebagai Camat Kecamatan Kertek, kami atas nama Pemerintah Kecamatan Kertek, pribadi dan juga keluarga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh komponen masyarakat Kertek, yang telah mendukung kami selama masa kepemimpinan kami.
Kami juga memohon maaf yang sedalam-dalamnya apabila dalam kami memimpin terdapat tutur kata dan tindakan yang kurang berkenan di hati masyarakat. Semoga Kecamatan Kertek dapat lebih maju dan lebih sejahtera.
Selanjutnya kami mohon do'a restu melaksanakan tugas dengan baik ditempat yang baru nanti.

WASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH




AGUS WIBOWO,S.Sos dan Keluarga

07 Oktober 2011

GEROBAK MOTOR KIAN MARAK

KERTEK- Berdagang sayur di warung atau gerobak dorong mungkin sudah biasa, Namun di Wonosobo kini kian marak sepeda motor yang dirombak menjadi gerobak. Seperti yang terjadi di pasar Kertek, jumlah pedagang gerobak motor sayur terus bertambah. Berkembangan usaha itu tidak lepas dari perolehan keuntungan yang diperoleh. Sebagaimana penuturan Sri Surani (39) warga Desa Marongsari, Kecamatan Sapuran yang sehari-hari berprofesi sebagai penjual sayur menggunakan sepeda motor dengan cara berkeliling kampung.

Menurut dia, jumlah motor gerobak sayur terus bertambah. Saat ini, pedagang yang tergabung dalam Forum Organisasi Pedagang Pasar Pagi Kertek (FORPAK) saja jumlahnya sekitar 500 gerobak. Sementara di Wonosobo terdapat tiga organisasi pedagang sayur keliling yakni Forpak, Embun Pagi, Alpat. Forpak dan Alpat berpusat di pasar Kertek sementara Embun Pagi berpusat di Pasar Induk Wonosobo.

Dia mengaku sudah berjualan sayur sejak tahun 2007 menggunakan sepeda motor. Sebelumnya Sri Surani hanya berjualan di Desa Marongsari secara menetap namun karena hasil yang diperoleh menurun dia kemudian memilih berjualan dengan cara berkeliling kampung. "Seingat saya, dulu belum ada yang berjualan sayur menggunakan sepeda motor. Kebanyakan pedagang sayur berkeliling dengan cara digendong. Tetapi tahun demi tahun jumlah motor gerobak sayur terus bertambah," tuturnya.

Hal itu tentunya tidak lepas dari perolehan keuntungan yang didapat. Jika dibanding berjualan secara menetap, jualan menggunakan sepeda motor jauh lebih untung karena bisa langsung mendatangi pembeli. Untuk bergabung ke dalam organisasi tersebut, pedagang harus membayar sekitar Rp 500.000 dengan beberapa fasilitas yang diberikan seperti kartu nama dan jaminan keselamatan.

Dikatakan, biasanya pedagang berkumpul di pasar tradisional pukul 05.30 WIB kemudian berkeliling ke kampung-kampung untuk menjual sayur. Meskipun saat ini harga sayur sedang merosot, namun tidak mempengaruhi omset penjualan sayur Sri Surani. Bahkan, dia mampu mengantongi untung yang cukup menjanjikan, sayangnya dia enggan menyebut ngka pastinya. "Ya cukup untuk hidup dan bayar sekolah," tuturnya.

Dia memaparkan, tidak hanya masyarakat saja yang tertarik usaha sepeda motor sayur, namun beberapa pengusaha Wonosobo kelas menengah pun berencana andil dalam bisnis tersebut. Karena itu, kata dia, usaha ini akan terus bertambah. Namun dia masih optimis bahwa usaha jualan sayur itu akan tetap bertahan mengingat daya konsumsi masyarakat yang terus bertambah. "Terjadi persaingan harga itu sudah pasti. Namun saya yakin usaha ini akan berlangsung awet," tuturnya.

05 Oktober 2011

MAYAT BAYI DITEMUKAN DI KEBUN TEH

KERTEK-Sesosok mayat bayi ditemukan didalam kardus mi instan di areal perkebunan teh PT. Tambi ,Dusun Banaran, Desa Candiyasan, Kecamatan Kertek. Bayi berjenis kelamin laki-laki tersebut ditemukan sekitar pukul 09.00 WIB oleh Mujiyono (48),"waktu itu saya sedang mencari ayam saya yang lepas lalu saya melihat kardus tergeletak,setelah saya buka ternyata isinya mayat bayi,"tuturnya.
Diduga bayi malang tersebut baru saja dilahirkan, karena ari-dan tali pusarnya masih menempel.
Kapolsek Kertek, AKP. Tri Gumono, ketika ditemui di TKP mengungkapkan bahwa kemungkinan bayi tersebut belum lama meninggal,"ketika ditemukan bayi tersebut masih lengkap dengan ari-arinya, dan darah masih mengalir serta belum berbau sehingga dimungkinkan meninggal kurang dari 24 jam."
Dia juga menambahkan bahwa diduga ada indikasi kekerasan yang dialami oleh bayi tersebut,"secara umum mayat bayi tersebut terlihat normal dan utuh , namun terdapat memar pada bagian hidung yang kemungkinan akibat kekerasan."Diduga bayi tersebut hasil hubungan gelap yang dibuang oleh orang tuanya,"imbuhnya.
"Kami akan terus dalami kasus ini, dan mengungkap siapa orang tua dari bayi ini,"pungkasnya.
Setelah dilakukan otopsi di TKP oleh petugas dari Puskesmas Kertek II, selanjutnya mayat bayi malang tersebut dimakamkan di pemakaman desa setempat.




04 Oktober 2011

BENDA PENINGGALAN PURBAKALA DI BEJIARUM

Desa Bejiarum, Kecamatan Kertek ternyata menyimpan khasanah budaya yang luar biasa. Tak hanya lengger, jaranan dan warokan, desa ini juga menyimpan banyak sekali benda-benda peninggalan jaman purbakala.
Artefak seperti arca, yoni, lingga, guci, dan batu candi dapat dengan mudah dijumpai di ladang-ladang milik penduduk dan di rumah-rumah penduduk.
Tak banyak yang tahu tentang asal muasal artefak tersebut, namun konon Desa Bejiarum dahulu merupakan tempat untuk melakukan bermeditasi dan melakukan kegiatan spiritual lainnya."di desa ini dahulu pernah tinggal seorang tokoh yang dianggap tertua di wilayah Kertek bernama Kyai Jenthit, sehingga desa ini menjadi pusat kegiatan spiritual,"tutur Adi Oktori, salah seorang perangkat desa Bejiarum."dan sampai sekarang masih ada petilasannya,"imbuhnya.
Menurut cerita dari mulut ke mulut, di Bejiarum ini terdapat 1001 candi yang tersebar di seluruh wilayah desa. Pada era tahun 90-an, ada sekitar 20 buah arca dan batu candi yang terdapat di sepanjang jalan masuk desa, namun sekarang sudah tidak bisa dijumpai lagi. Sebagian telah hilang ataupun telah berubah fungsi menjadi material bangunan.
Kepala Seksi Benda Purbakala Disparbud Wonosobo, Oni Wiyono, mengaku pihaknya tengah menginventarisasi benda-benda purbakala yang ada di Wonosobo, termasuk yang terdapat di Bejiarum ini," Benda-benda purbakala yang ada di daerah Wonosobo pada umumnya berasal dari dinasti Syailendra atau sekitar abad ke-7 Masehi, termasuk yang berada di Desa Bejiarum ini." kami juga berkoordinasi dengan Balai Peninggalan Purbakala ( BP3) untuk memastikan usia dan asal dari benda-benda tersebut,"imbuhnya.
"kami juga bekerjasama dengan pemerintah desa setempat untuk segera melaporkan apabila menemukan artefak purbakala lainnya," pungkasnya.
Artefak seperti yang ditemukan di desa Bejiarum dapat dijadikan salah satu indikator bahwa peradaban di Wonosobo telah cukup tua, namun masih diperlukan perhatian yang lebih serius dari pemerintah dan masyarakat untuk melestarikan benda-benda peninggalan sejarah yang tak ternilai ini.







26 September 2011

KBS STILL ON THE MOVE

KERTEK-Program Kebun Bibit Sekolah (KBS) di Kecamatan Kertek masih akan terus "digeber",hal itu terungkap dalam rapat kerja antara Bupati Wonosobo, Pimpinan BUMD,BUMN, Pimpinan Perbankan serta para Camat yang wilayahnya termasuk dalam pilot project Program Kebun Bibit Sekolah ( KBS) di ruang rapat Setda Kabupaten Wonosobo.
Seperti diberitakan sebelumnya, wilayah yang menjadi pilot project program KBS meliputi 6 Kecamatan yaitu Watumalang, Kejajar,Mojotengah, Garung, Kertek, dan Kalikajar.
Camat Kertek, Agus Wibowo,S.Sos dalam paparannya menyampaikan bahwa sampai dengan bulan Agustus ini perkembangan program tersebut cukup siginifikan, "Dari 25.000 bibit yang kami tanam, sampai saat ini yang hidup sebanyak 22.562 bibit atau sekitar 90,2 % dengan ketinggian rata-rata antara 15-17 cm,"ungkapnya." Kami rencanakan bisa ditanam pada awal bulan Desember mendatang"imbuhnya.
Bupati Wonosobo, Drs. H A. Kholiq Arif menekankan bahwa program KBS ini harus berhasil dan semua komponen harus berpartisipasi aktif, " Seluruh dinas, instansi, BUMD dan BUMN harus ikut mensukseskan program ini dan menjaga agar program ini mempunyai jaminan sustainability." tandasnya.
Pelestarian lingkungan masih menjadi isu yang sentral di Kabupaten Wonosobo, mengingat kerusakan ekosistem di kabupaten ini telah mencapai ambang batas yang mengkhawatirkan, padahal Kabupaten Wonosobo menyangga kebutuhan air di 13 Kabupaten/ Kota Se- Jawa Tengah serta menjadi hulu bagi 5 sungai besar di Jawa Tengah terutama sungai serayu dan bogowonto.