18 Maret 2011

Pembinaan PKK

baru-baru ini telah dilakukan pembinaan kader PKK oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Ibu Aina Kholiq Arif di desa Bejiarum. Dalam pembinaan ini sekaligus dilakukan evaluasi 10 Program Pokok PKK dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat yang ada.
Kegiatan tidak saja pada tertib administrasi di Balai Desa melainkan juga implentasi pelaksanaan 10 program pokok PKK baik masalah perilaku hidup bersih dan indah, rumah sehat serta posyandu.
antusiasme kader TP.PKK sangat besar terlihat pada hasil kegiatan yang ditampilkan sangat beragam terutama produk unggulan potensi desa.

27 Januari 2011

100 PERSONEL TNI MELAKSANAKAN KARYA BHAKTI

KERTEK- Sebanyak 100 personil yang terdiri dari anggota Kodim 0707/ Wonosobo dan Koramil Kertek melaksanakan kegiatan Karya Bhakti pada hari Kamis (27/1) kemarin. Kegiatan yang dimaksudkan untuk mempersiapkan pelaksanaan TMMD ini mengambil tempat di Desa Candiyasan Kecamatan Kertek dengan dibantu oleh warga masyarakat setempat. Danramil Kertek Kapten Inf Ngadimin yang ditemui di sela-sela kesibukannya menuturkan bahwa sasaran kegiatan kali ini adalah pelebaran jalan tembus Candiyasan dan Kapencar, " jalan yang semula hanya 3 meter kami lebarkan menjadi 5 meter dengan panjang 2 km."
Peningkatan jalan tembus ini dirasa sangat penting karena jalan ini merupakan jalan utama pengangkutan hasil pertanian masyarakat sekitar. " Dengan diperbaikinya jalan ini diharapkan pengangkutan hasil pertanian menjadi lebih lancar sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat." ungkap Camat Kertek Agus Wibowo ketika meninjau pelaksanaan kegiatan karya bhakti ini."rencana kedepannya akan diadakan program rolak jalan, sehingga jalan yang semula tanah ini akan lebih mudah dilewati terutama di musim penghujan," tambahnya pula tanpa menyebutkan waktu pelaksanaan program dimaksud. Sementara itu Suwarto (40) petani asal desa Candiyasan , mengatakan bahwa petani sangat terbantu dengan kegiatan ini ,"waune nek ngangkut niku kedah dipikul, nek mbenjang mpun saged diangkut ngge montor,"( kalau dulu mengangkutnya harus dipikul,kalau besok-besok sudah bisa diangkut memakai mobil), ungkapnya dengan logat yang khas.
Kegiatan karya bhakti dan TMMD semacam ini paling tidak dapat menjadi suatu momentum untk merefresh ingatan kita tentang kemanungggalan TNI-rakyat, disamping itu jugab erfungsi untuk menumbuhkan kembali jiwa gotong royong yang sepertinya sudah semakin luntur pada masyarakat kita belakangan ini. (f-16)


18 Januari 2011

TRUK SERUDUK PASAR, 4 TEWAS, 24 LUKA-LUKA

KERTEK-Sebuah truk bermuatan beras menabrak pasar yang sedang ramai pembeli pada pukul 5 dini hari tadi. Tercatat 4 orang tewas seketika, 24 orang luka-luka. Keseluruhan korban saat ini sudah dievakuasi ke Rumah Sakit Islam Wonosobo dan RSUD Wonosobo. Sedangkan 2 orang korban meninggal belum diketahui identitasnya karena kondisi jasad korban yang sulit dikenali. Sedangkan sopir dan kernet truk saat ini masih dirawat intensif di RSUD Wonosobo karena luka-luka yang diderita.
Menurut saksi mata, truk bernopol H 1756 DE yang dikemudikan Paiman (35) ini melaju kencang dari arah Kledung, diduga kare
na rem blong, laju truk menjadi tidak terkendali dan menabrak sebuah minibus suzuki carry, mobil daihatsu grand max, mikrobus dan 15 buah sepeda motor yang diparkir di pinggir jalan sebelum menabrak kerumunan orang yang sedang berjualan di pasar pagi. Sebuah pos polisi yang terletak berdekatan dengan pasar juga tak luput dari terjangan truk nahas ini.
Kapolres Wonosobo, AKBP Y
aved Duma Parembang bersama Camat Kertek Agus Wibowo, terlihat turun langsung ke lokasi untuk memimpin jalannya evakuasi badan truk yang masih tergeletak di jalan.
Lokasi kejadian yang berada tepat di pertigaan pasar Kertek menyebabkan proses evakuasi berjalan lamban, hal tersebut dikarenakan banyaknya orang yang berkerumun untuk menonton. Kemacetan pun tidak dapat dihindarkan, karena proses evakuasi berlangsung pada saat jam sibuk.
Jalur Kledung-Kertek memang sud
ah terkenal sebagai jalur maut. Kondisi jalan yang menurun dan tikungan yang tajam serta kondisi yang berkabut pada sore dan pagi hari mengharuskan para pengemudi untuk ekstra hati-hati ketika melewati daerah ini. Tercatat sudah puluhan kali terjadi kecelakaan di jalur ini, kebanyakan disebabkan oleh rem blong. (f-16)

14 Januari 2011

KULINER WONOSOBO CITARASA "SEMARANGAN"

Apabila anda kebetulan melintas di daerah Kertek, tak ada salahnya anda berhenti sejenak untuk mencicipi salah satu kuliner ini. "SOTO AYAM SEMARANG PAK LIS" begitu bunyi spanduk yang terpampang di depan kios. Terletak sekitar 300 meter di sebelah barat pasar Kertek.
Sekilas memang tidak ada bedanya dengan warung soto semarang yang ada tempat lain. Namun setelah anda mencicipi kuliner ini, anda akan merasakan bedanya. Kuah soto yang begitu kaya rasa dipadu dengan bumbu-bumbu racikan sendiri membuat soto ini begitu bercitarasa "semarangan", apalagi jika disantap bersama dengan sate kerang dan tempe gorengnya yang gurih, seakan-akan kita sedang menyantap soto di daerah aslinya Semarang. " Rasanya sangat orisinil, serasa di kampung," tutur Suparman(40), seorang pengusaha asal Semarang. Lain lagi dengan Desy (26), ibu rumah tangga sekaligus pecinta kuliner ini mengaku rasa soto ini memang beda," Saya sudah mencoba soto Semarang di berbagai tempat di Wonosobo, tapi ini yang paling Mak Nyuss"." Hampir tiap hari saya makan disini bersama anak-anak saya mas,"imbuhnya pula.
Adalah Yulistiono (24), pemilik dan pengelola warung yang sudah 1 tahun membuka usaha warung soto di daerah kertek.
Pada awalnya "Pak Lis", begitu dia akrab disapa, hanya bekerja sebagai salah seorang peracik bumbu di salah satu warung soto di Semarang. Berbekal pengalaman 7 tahun bekerja sebagai peracik bumbu dan dengan modal hanya 4 juta rupiah, dia memberanikan diri untuk membuka usahanya sendiri di Wonosobo, kota kelahirannya. Menurutnya bumbu yang dipakainya tak jauh beda dengan soto semarang lainnya, " saya hanya menambahkan sedikit bumbu khusus kreasi sendiri, mungkin itu yang membuat soto saya ini sedikit berbeda," tutur suami dari Dani Ernawati ini sambil terus melayani pembeli." oya mas, tambah satu resep lagi, ditambah senyum" tambahnya yang langsung disambut senyum simpul istri tercintanya. Mereka berdua memang terlihat kompak dalam melayani pelanggan.
Warung soto ini nyaris tak pernah sepi pembeli, bahkan pada jam-jam tertentu warung sederhananya ini seringkali tak muat, sehingga pembeli kadang harus rela berdesakan untuk dapat mencicipi soto buatan Pak Lis ini.
Harga soto di warung inipun cukup terjangkau, hanya dengan merogoh kocek Rp. 5000-Rp. 10.000, anda sudah bisa menikmati soto buatan Pak Lis ini lengkap dengan semua uba rampe-nya. Jadi tak ada salahnya anda berhenti sejenak sambil memanjakan lidah anda dengan kuliner "semarangan" ini......SELAMAT MENCOBA...(f-16)

12 Januari 2011

PENGABDIAN TANPA PAMRIH SANG BIDAN DESA



Senyum ramah langsung mengembang saat menerima kedatangan kami di PKD ( Pos Kesehatan Desa) desa Bejiarum Kecamatan Kertek," saya sedang ada pasien sebentar mas", tuturnya." Bu Nourma",begitu panggilan akrabnya. Gadis berparas ayu pemilik nama lengkap Nourma Pusphita ini memang seorang tenaga kesehatan di desa tersebut, bidan desa lebih tepatnya. Tiga tahun sudah dia menekuni profesi tersebut, lengkap dengan suka maupun dukanya. " saya masuk Wonosobo mulai tahun 2007 dan mulai bertugas di Bejiarum pada bulan November 2008", kenangnya.
Profesi sebagai bidan desa tak pernah terpikirkan olehnya, menjadi seorang dokter adalah cita-citanya sejak kecil, namun putri dari pasangan Bp. Nasihin dan Ibu Khodijah ini tak pernah menyesalinya, justru semakin menambah semangatnya untuk menjalani profesi ini.
Pada awalnya banyak kesulitan yang harus dia hadapi. Masyarakat pada umumnya masih lebih percaya kepada dukun bayi ketimbang bidan, sehingga cenderung menyepelekan keberadaan bidan. Namun dengan pendekatan yang intensif, sedikit demi sedikit pola pikir masyarakat desa pun mulai berubah. "Masyarakat sekarang sudah mulai sadar akan pentingnya kesehatan reproduksi, angka kematian ibu melahirkan dan bayipun sudah semakin menurun",tuturnya
Menjadi bidan desa memang bukan profesi yang mudah untuk dijalani oleh gadis kelahiran Tegal 25 tahun yang lalu ini, banyak hambatan dan tantangan yang harus dihadapi setiap harinya. Faktor medan yang sulit dan keterbatasan peralatan seakan-akan menjadi makanan sehari-hari ibu bidan ini. " Kadang harus keluar duit sendiri untuk membeli peralatan dan obat-obatan mas", terangnya. "Bahkan tak jarang saya dibangunkan tengah malam untuk menolong proses kelahiran" , imbuhnya pula. Berbekal ilmu yang dia dapat di STIKES Bhakti Mandala Husada Tegal, semua hal tersebut dilakoninya dengan ikhlas. " modal Bismillah saja mas", ucapnya sembari tertawa kecil. Beruntung ada perhatian dari pemerintah desa setempat dengan menyediakan alokasi dana kesehatan pada Alokasi Dana Desa sehingga dapat sedikit meringankan beban operasional bidan.
Bertugas jauh dari keluarga kadang menjadi hambatan tersendiri , rasa rindu kampung halaman dan keluarga kadang menghantuinya, namun gadis yang sebentar lagi akan mengakhiri masa lajangnya ini tak pernah menjadikannya sebagai suatu hambatan yang berarti, justru dijadikan motivasi tersendiri untuk dapat bertugas dengan baik.
Banyak pengalaman menarik yang dia dapatkan selama bertugas di desa Bejiarum, mulai dari suami yang salah menggunakan alat kontrasepsi, sampai remaja yang minta aborsi. Tak jarang pula ada pengalaman pahit yang harus dia alami seperti saat menolong persalinan resiko tinggi. " bayinya selamat, tapi ibunya meninggal sebulan kemudian karena mempunyai riwayat stroke", kenangnya sambil berkaca-kaca.
Kedepan dia berharap agar pemerintah lebih memperhatikan keberadaan para bidan desa, khususnya di Kabupaten Wonosobo karena beban kerja bidan desa kian hari kian berat. Penambahan sarpras kesehatan dan kebidanan menjadi hal penting yang harus diperhatikan oleh para pembuat kebijakan di Kabupaten ini.

Masalah kesejahteraan apakah perlu ditingkatkan juga?

" Saya tidak ngarep-arep soal itu mas, tapi kalau ditambah ya alhamdulilah." pungkasnya sembari bersiap-siap untuk mengunjungi pasien. ( f-16)


11 Januari 2011

DUA DESA TERKENA PENALTI ADD

KERTEK- Dengan berakhirnya periode ADD tahun 2010, maka desa-desa di Kecamatan Kertek diharuskan untuk menyelesaikan seluruh administrasi SPJ ADD tahap II selambat-lambatnya pada tanggal 10 Januari 2011 (kemarin-red). Namun setelah jatuh tempo pada tanggal tersebut, masih terdapat 2 desa yang belum menyetorkan SPJ ADD Tahap II yaitu Damarkasiyan dan Tlogomulyo.
Menurut Camat Kertek Agus Wibowo, S.Sos, pihak Kecamatan telah melakukan pembinaan ke masing-masing desa, baik secara terjadwal maupun tidak terjadwal, dan dalam setiap kesempatan selalu mengingatkan kepada desa agar tidak menunda-nunda pelaksanaan kegiatan ADD." Penyusunan SPJ ADD sebisa mungkin untuk dipipil setiap bulannya agar bisa selesai tepat waktu dan tidak terasa memberatkan" imbuhnya pula.
Sesuai dengan peraturan yang ada, maka kedua desa tersebut akan mendapatkan pengurangan/ penalti sebesar 5% dari jatah ADD yang akan diterima pada tahun 2011. " Sebenarnya kami tidak mengharapkan ada desa yang terkena penalti, namun karena beberapa kendala , dengan sangat terpaksa harus ada desa yang mendapat penalti 5 persen," pungkasnya.

DESA SEBAGAI TITIK PERTUMBUHAN EKONOMI BARU




KERTEK-Melalui Program Alokasi Dana Desa Tahun 2011 yang akan datang, desa diharapkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang baru,hal ini disampaikan oleh Wakil Bupati Wonosobo, Ibu Hj. Maya Rosida. MM dalam acara Sarasehan Alokasi Dana Desa yang dilangsungkan hari ini ( 11/1) di Aula Kecamatan Kertek. Dalam kegiatan yang dihadiri oleh seluruh unsur pemerintah desa, tokoh masyarakat, unsur Muspika serta Kepala Dinas Instansi Se- Kecamatan Kertek disampaikan pula bahwa titik berat pembangunan masyarakat pedesaan adalah pada pembangunan ekonomi berbasis masyarakat, sehingga pada masa yang akan datang, perekonomian di pedesaan akan terus berkembang yang pada akhirnya akan meningkatkan taraf hidup masyarakat desa.
Beliau menambahkan, untuk mencapai hal tersebut diperlukan kebijakan yang pro poor, pro growth dan pro job dalam penyusunan APBDes.Hal tersebut merupakan suatu gebrakan yang baru mengingat selama ini pemberdayaan ekonomi masyarakat seakan dinomorduakan dalam pengalokasian dana ADD walaupun program tersebut telah lama digaungkan oleh pemerintah.
Menyikapi hal tersebut, pemerintah desa dituntut untuk mempunyai data yang akurat mengenai masyarakat desanya sehingga program tersebut dapat tepat sasaran.





29 Oktober 2010

3 Truk sayuran diberangkatkan untuk Peduli Korban Merapi

Sebagai ungkapan kepedulian terhadap korban bencana meletusnya gunung merapi di wilayah Jateng selatan dan DIY, Pemerintah Kecamatan Kertek pada hari jumat 29 oktober 2010, telah menggalang solidaritas bantuan dari masyarakat. bantuan ini berupa berbagai bahan makanan khususnya sayur mayur.
menurut camat kertek, Agus Wibowo, dari hasil swadaya masyarakat telah terkumpul 3 truk sayuran terdiri atas, kol, sawi, kentang, jipan, waluh kenthi, buncis, singkong. disamping itu terdapat pula bantuan berupa pakaian pantas pake, uang serta bahan makanan seperti beras dan mie instan.
bahan-bahan tersebut langsung dikirim setelah sholat jumat dengan sasaran posko bencana di kabupaten magelang dan DIY. melalui kegiatan ini harapan agus untuk memupuk rasa solidaritas dan kesetiakawanan sosial antar sesama. disamping itu dengan bantuan yang ala kadarnya tersebut paling tidak bisa meringankan beban para korban yang kini masih berada dalam tenda-tenda pengungsian.

21 Oktober 2010

SMP 1 Kertek Juara 2 Perpustakaan tingkat NASIONAL

HEBAT...dan BANGGA. Kalimat inilah yang muncul di benak kami saat mendengar hasil perolehan lomba Perpustakaan tingkat Nasional bahwa SMP 1 Kertek dapat menjuari nomor 2. sekalipun belum nomor wahid, prestasi ini telah mengukir nama Kertek dan Wonosobo di kancah Nasional. mengapa? untuk menuju prestasi gemilang ini, selain awalnya harus melewati seleksi tingkat lokal daerah Wonosobo, tingkat eks karesidenan Kedu dan melewati tingkat regional Jawa tengah, harus mampu pula dilombakan dengan 10 besar nominasi tingkat nasional. dengan demikian maka SMP 1 Kertek telah menyisihkan 8 besar peserta di Tanah Air.
Selamat dengan prestasi ini, semoga kamajuan ini mampu meningkatkan semangat belajar bagi para siswa dan dorongan orang tua.

18 Agustus 2010

Persiapan Antisipasi Kemacetan Menjelang Hari Raya Idul Fitri tahun 2010

Kertek dari dulu terkenal macet terutama saat ramadhan dan menjelang lebaran. keprihatinan inilah yg akhirnya oleh Pemerintah Kecamatan dilakukan langkah antisipasi melalui pembentukan tim swakarsa antisipasi kemacetan. tim ini dibentuk oleh Pemerintah Kecamatan bersama komponen tokoh masyarakat kertek melalui rapat tgl 14 agustus 2010. hasilnya, telah dirumuskan beberapa skenario alternatif yang kemudian dibahas kembali pada hari rabu tgl 18 agustus dengan menghadirkan aparat dinas terkait tingkat kabupaten (Dishub, Diperindag, Satpol PP, Satlantas, pos polisi pasar) beserta seluruh komponen pelaku di pasar kertek mulai dari perwakilan pedagang, ojek, angkutan, pkl, upt pasar kertek serta muspika kertek.
dari hasil diskusi panjang akhirnya diputuskan dalam antisipasi kemacetan tahun ini, dirumuskan sebagai berikut:
1. dibentuk tim swakarsa yg membantu tugas aparat pada saat operasi ketupat tahun ini di semua titik rawan kemacetan dengan jumlah personil sebanyak 24 orang dari pemuda kertek.
2. biaya operasional tim ini diperoleh melalui swadaya dari semua komponen pasar.
3. tim mulai bertugas sejak H-10 sampai lebaran tiba.
4. strategi yang dilakukan yakni;
a. mensterilkan kawasan pertigaan kertek dari area parkir dan ngetem kendaraan roda 4 terutama angkutan umum. adapaun batas sterilisasi ini meliputi, jalur utara sampai kedepan kantor kelurahan kertek, jalur barat sampai jembatan paat dan sebelah timur sampai depan toko pandanaran.
b. menghidupkan kembali jalur gletosari menuju jalur belakang pasar sebagai alternatif pembuka akses bagi kendaraan roda 4 yg selama ini mati akibat banyaknya kendaraan parkir roda 4 dan keluarnya pedagang unggas dari pasar yang menempati bahu jalan tersebut.
c. mendefinitifkan kembali jalur satu arah dengan pemasangan atribut rambu lalu lintas freeboden yang meliputi jalur timur pasar hanya untuk arah ke semayu, jalur gletosari dan belakang pasar hanya untuk arah ke barat menuju barat pasar.
d. menata kawasan protokol depan pasar tidak untuk tempat parkir roda 4 maupun dokar.
e. mengusulkan H-7 bagi kendaraan truk dilarang masuk pasar kecuali untuk angkutan sembako.
f. menetapkan jam kegiatan pasar sayur secara tertib yakni untuk sayur pagi sampai jam 8, dan sayur sore dimulai dari jam 4.
g. mendefinitifkan 2 ruang longopan parkir timur pasar sebagai lokasi bingkar muat barang kebutuhan pedagang pasar.
dengan terlah dibentuknya tim ini, maka secara operasional di lapangan akan dikoordinasikan oleh tim operasi ketupat yang bermarkas di depan pos polisi kertek pada setiap harinya.
sebagai tanda dimulainya operasi ini pada H-7 secara resmi akan dilakukan apel bersama gabungan antara tim swakarsa dengan tim operasi ketupat.
Camat Kertek Agus Wibowo,S.Sos yang memimpin dua rapat ini menyampaikan terimakasih dan harapan agar kertek di ramadhan dan lebaran tahun ini bebas dari kemacetan, kalaupun toh harus macet tidak berlangsung dalam tempo yang lama ataupun dalam radius kepadatan antrean kendaraan yang cukup panjang. karenanya ia menghimbau kepada semua pelaku pasar kertek agar lebih mengutamakan kepentingan umum sambil masing-masing tetap berusaha semaksimalkan mungkin didalam memenuhi kebutuhan usaha pribadinya sesuai profesi masing-masing.

19 Juni 2010

Konsep Pengembangan Kota Kertek



Kertek tak kan lama lagi menjadi satu kesatuan kota Wonosobo. Peluang besar yang mesti bisa ditangkap adalah mengembangkan kota kertek sebagai satelit kedua Wonosobo. Bagaimana mewujudkan kertek sebagai kota penyangga 4 kecamatan disebelahnya yakni kalikajar, sapuran, kepil dan kalibawang. ini tidak mustahil bahkan kertek bisa diproyeksikan sebagai sokaarajanya wonosobo seperti yang ada di kabupaten banyumas.
lantas apa saja yang mesti disiapkan? pertama mental bisnisman masyarakat yang wirausaha. semua potensi mampu digerakkan kearah wirausaha untuk merubah gaya hidup menjadi labih maju. kedua membangun infrastruktur perkotaan yang pro dengan investasi maupun pemasaran.
konsep ini secara rinci dibuat dalam program peluasan tata kota yang diproyeksikan dari wilayah sambon sampai bojasari. program inipun secara terpadu diteruskan ke arah wonosobo melalui peluasan jalan protokol guna menunjang perekonomian setempat. tidak saja itu, dukungan jalur jalan lingkar baik utara maupun selatan mutlak dibutuhkan untuk mengembangkan kawasan dan memecah keramaian. mengapa? problematika kertek saat ini adalah kesemprawutan dan kemacetan. dengan jalur ini rekayasa lalu lintas bisa diwujudkan sehingga kertek benar-benar terwujud sebagai kota yang tertib. selebihnya, pengembangan kawasan selatan sebagai penyangga pusat kegiatan ekonomi pasar menjadi rujukan untuk mengurai permasalahan pasar kertek saat ini. adanya kawasan pusat pasar ikan, pasar ungga dan pasar sayur yang disatupadukan dengan konsep terminal di kawasan jalur arah semayu nampaknya bisa menjadi solusi sehingga jalur tersebut menjadi jalur ekonomi kedua yang lebih maju.

29 April 2010

Kades Karangluhur


Namanya Sucipto, ia dulu karyawan PT Pos Indonesia yang belum masuk masa pensiun beralih profesi sebagai kepala desa. orangnya supel, memiliki integritas,loyal dan semangat. membangun desa menjadi visi kedepan. kiparhnyapun banyak diakui oleh banyak pihak. dialah kades Karangluhur, pemimpin desa yang wilayahnya berada di jantung Kota kertek. kegiatan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan selalu berada di garda depan. disiplin telah membuatnya sebagai sosok yang berkinerja. semoga dengan semangatnya mampu memberi dampak bagi kesejahteraaan masyarakat desa Karangluhur kecamatan kertek.

24 April 2010

Sosok Kades Tlogodalem


Namanya Nur Budianto, akrab dipanggil pak nur, bahkan sering orang memnggilnya pak kiai. ia adalah kepala desa Tlogodalem kecamatan kertek. orangnya bersahaja, santai dan disiplin. tak heran desanya selalu rangking pertama lunas PBB. semangatnya luar biasa dalam membangun desanya. inilah sosok sng pemimpin desa Tlogodalem yang dicintai rakyat

Kondisi sumber mata air

Jumlah sumber mata air di wilayah Kecamatan Kertek sebanayak 97 buah dengan kondisi hampir 80% debitnya menurun. Jika pada musim penghujan memang belum dirasakan dampak penurunannya, namun saat musim kemarau sangat jelas tingkat penurunan debitnya. Adapun secara terperinci sumber mata air tersebut sebagai berikut:
Tabel 10 ; Sumber Mata Air.
No Desa No urut Debet(l/dtk) Keterangan
1 Sumberdalem Sidandang >10 Mulai menurun debitnya,trtm kemarau
Sitalon <10 Menurun
Kwarasan <10 Menurun
2 Karangluhur Krakal tamanan >10 Musim kemarau debit menurun
Sikembang >5 Musim kemarau debit menurun
Sibeduk 1-5 Lancar
Si curuk 1-4 Debit kecil
Selo 1-4 Debit kecil
Cembung 1-4 Debit kecil
Wangan aji 1-4 Debit kecil
Semen 1-4 Debit kecil
Srunah 1-4 Debit kecil
Sigondangan 1-4 Debit kecil
Sigan 1-4 Debit kecil
Lempong gosono 1-4 Debit kecil
Si borosan 1-4 Debit kecil
Delesan 1-4 Debit kecil
Krakal 1-4 Debit kecil
3 Purbosono Delesan 5 Dipakai 1 desa,
Jlukjlugan 1-5 Belum dipakai debet bagus
Dadap gede 10 Dipakai PDAM
Si dandang 10 Dipakai PDAM
4 Tlogodalem Wringin 5-10 Dipakai warga, debet menurun
Senden 5 Dipakai warga, menurun
5 Bojasari Jalatunda 5-10 Debet menurun
D
Sijero 5-10 Debet menurun
Siwaloh 5-10 Debet menurun
Tegal 5 Debet menurun
Silentreng 5 Debet menurun
Siponcol 5 Debet menurun
Setanganan 5 Debet menurun
Sempol 5 Debet menurun
6 Banjar Rantam sari 5-10 Dipakai pdam, dan sawah, baik
Tempurung dianggun 5-10 Dipakai kalitengah, banjarsari, baik pasang surut
7 Purwojati Lempong 1-2 Lancar

Bruk dempel 1-2 Lancar
Sewai sewot 1-2 Lancar
8 Tlogomulyo Dadap 1 Dipakai warga kasiyan,kaliurip, debet bagus
Tempurung 5 Dipakai warga keseneng mjtgh, debet bagus
Seglogak 5 Belum dipakai.
9 Pagerejo Sarangan 1-5 Disalur ke prbsn, madukoro,kalikuto. Debet abgus
Seprih 1-5 Dipakai pagerotan gemawang, debit bagus
10 Damarkasiyan Sijemblong >10 Dipakai dsn getas dan ds banjar, bdt baik
Siglotuk 5 Dipakai dusun kaliurip, Debet menurun
Sigajah 10 Dipakai PDAM, debet baik
Si rancak 10 Dipakai PDAM, debet baik
Si Dandang 5 Dipakai warga dsn kaliyoga,kesemen,bedakah,debit baik
11 Kapencar Branti 10 Dipakai ds kapencar debet menurun
Code 1-5 Dipakai beberapa warga, debetnya bagus
Kedunggede 1-5 Dipakai 1 RW debet bagus
Siteja 1 Belum dipakai, debit kecil
Kali Slamet 1-2 Debit kecil
Krakal 1-2 Debit kecil
Watulayang 1-2 Debit kecil
Kaliraki 1-2 Debit kecil
12 Surenggede Kalikuang 10 Debit lancar
Sibedah 5 Debit lancar
Sendang sari 5 Debit lancar
Sicliwik 3 Debit lancar
Kalisalak 3 Debit lancar
13 Sudungdewo Sembir 1-5 Debit kecil
Sikleneng 1-5 Debit kecil
Sijurang 1-5 Debit kecil
14 Sindupaten Ngadisuko 1-5 Saat penghujan tdk masalah,saat kemarau menurun tajam

Silempong 1-5 s.da




15 Wringinanom Sijambe 10 Debit baik
Binangun 10 Debit baik
Kemiri 5 Debit baik
Kalijurang 3 Debit kecil
Silempong 3 Debit kecil
16 Candimulyo Sidandang >10 Dipakai pdam
Muncar >10 Mati / mengecil, dipakai PDAM
Sibancet 1-10 Dipakai warga candiroto
17 Ngadikusuman Sitempurung 1-5 Saat hujan tdk masalah, saat kemarau menurun drastic
Pomahan 1-5 s.d.a
Sidedek 1-5 s.d.a
Sigudel 1-5 s.d.a
18 Reco Sibuntu >5 Debit baik, kemarau menurun
Bergelo/kaligalo >5 Debit baik,kemarau menurun
Segaran 1-5 Debit menurun
Kalilempong 5-10 Debit menurun
Kalitutup 1-3 Debit kecil
Sekwali 1-5 s.d.a
Sigatol 1-3 s.d.a
Brangki 1-3 s.d.a
Deles 1-3 s.d.a
Siduglik 1-3 s.d.a
19 Candiyasan Setejan 6 Tidak dipakai warga, debet menurun
Teneru 2 Dipakai banjaran, debetnya menurun
Siwaloh 5 Dipakai warga kabelukan. Debet menurun
Lak grenjeng >10 Dipakai dsn grenjeng,kabelukan, dbt baik

Sirenteng >3 Dipakai warga jurangjero, debet menurun
20 Kertek Krakal dawung 5-10 Debit baik
21 Bejiarum Bejijurang 10 Dipakai warga bejiurang,weningsari, guasari, debet bagus
Brengosan 10 Dipakai warga brengosan, debet bagus
Penanggulan 5-10 Dipakai sudungdewo, debet menurun
Sipolang 1-5 Dipakai kalicecep, debetnya bagus
Jumlah 97 buah
Sumber: Data Monografi Kec.Kertek,2009;

Melihat data di atas, kondisi sumber mata air yang ada saat ini sudah mulai memprihatinkan. Hal ini apabila dilihat dari kondisi luasan lahan kritis yang ada dan perlakuan manusia terhadap alam sepertimasih adanya penggalian pasir, ada korelasi yang erat. Kurangnya vegetasi tanaman keras berupa kayu-kayuan di kawasan yang semestinya menjadi resapan air dan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pohon bagi pelestarian lingkungan, menjadi salah satu penyebabnya. Tidak saja berpengaruh pada kondisi air, akan tetapi lebih dari itu, punahnya habibat fauna maupun jenis-jenis flora langka karena rusaknya unsur hara akibat pola pertanian yang bergantung pada bahan kimiawi.
Di kehidupan sekarang saja sudah mulai dirasakan dampak negatifnya, seperti kasus matinya beberapa sumber mata air, meningkatnya suhu udara dan semakin ekstrimnya iklim bahkan banyak terjadi bencana alam seperti angin puting beliung dan tanah longsor. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana kelak kehidupan di masa anak-anak dan cucu kita, jika tidak segera dibenahi. Kesulitan air, kekeringan, puso, kanker kulit karena jebolnya lapisan ozon, di sana-sini bencana alam terus terjadi dalam hitungan menit, tentu akan terjadi. Inilah gambaran manakala generasi sekarang tidak memberikan warisan alam yang baik kepada penerusnya.

Potensi Perikanan

Berbeda dengan potensi peternakan, di mana kawasannya banyak berada di lereng sumbing dan sindoro yang menempati area di 10 desa, maka untuk potensi perikanan darat berada di kawasan Kertek bawah yang meliputi desa sindupaten sampai Sudungdewo. Menurut data BPS tahun 2009 bahwa luasan area lahan kolam di Kecamatan Kertek mencapai 11.843 hektar. Namun tidak semua pemilik kolam tersebut tergabung dalam kelompok tani budidaya ikan. Adapun jumlah kelompok tani budidaya ikan yang ada hanya sebanyak 14 kelompok dengan luas area lahan kolam 2,1448 hektar. Selebihnya seluas 9,6982 hektar merupakan petani ikan perorangan. Sementara rincian jumlah produksi dan luas area kolam dari 14 kelompok budidaya ikan yang ada sebagai berikut ;
Table 8 ; Data kelompok budidaya ikan, luas lahan dan jumlah produksi.

No Desa Nama Pokdakan Luas area (Ha) rata-2 Produksi (ton/bulan) Jenis komoditas
1 Sudungdewo Sejahtera 0,0650 0,1422 Nila,bandung
Dewan jaya 0,0556 0,1216 Nila,bandung
Lumintu 0,0610 0,0890 Nila,bandung
Lestari 0,0720 0,1050 Nila,bandung
2 Karangluhur Margo luhur 0,7500 0,1641 Nila
3 Bojasari Muda Tani 0,0862 0,1886 Nila,Grasscarp
4 Kertek Ulam sari 0,0545 0,1192 Nila,Grasscarp
5 Candimulyo Makmur 0,5280 1,1550 Nila,Grasscarp
6 Ngadikusuman Mina tani 0,1710 0,3741 Nila
7 Tlogomulyo Ngudi rahayu 0,0820 0,1794 Nila
8 Sumberdalem Jaya abadi 0,0595 0,0868 Nila,Grasscarp
Sumbersari 0,0474 0,1037 Nila,Grasscarp
9 Pagerejo Jaya makmur 0,0573 0,0836 Nila,Grasscarp
10 Sindupaten Mujur 0,0553 0,1210 Nila,Grasscarp
Jumlah 14 klpk 2,1448 3,0333
Sumber : BPS , Tahun 2009.

Dari data tersebut maka potensi produksi perikanan di wilayah Kertek dari 14 pokdatan mencapai 3,0333 ton perbulan atau 36,4 ton pertahun. Jumlah ini apabila ditambah dengan produksi budidaya ikan milik perorangan (diluar kelompok yang ada) seluas 9,6982 hektar sebanyak 6,8575 ton perbulan atau 82,3 ton pertahun, maka jumlah produksi ikan di Kecamatan Kertek pertahunnya mencapai 118,7 ton. Jumlah ini sangat signifikan jika Kertek ke depan dijadikan kawasan sentra perikanan darat, dengan daya dukung pangsa pasar dan fasilitas pembangunan pasar ikan yang lebih strategis.

Potensi Peternakan

Kawasan lembah SUSI (Sumbing-Sindoro) merupakan area potensi rumput yang cukup melimpah. Sayangnya potensi ini belum mampu menjadi peluang usaha peternakan di kawasan tersebut, kalaupun ada, rasio jumlah ternak dan ketersediaan nutrisi pakan masih belum sebanding. Adapun jumlah ternak yang ada adalah ;
No
Desa
JmlSapi
JmlKerbau,
jml Kambing/domba
Luas Tegalan Potensi rumput (Ha)
1 Sindupaten 13 10 88 -
2 Surenggede 8 12 97 -
3 Bojasari 27 14 177 -
4 Kertek 68 6 44 -
5 Sumberdalem 54 - 40 -
6 Purwojati 74 8 212 71
7 Karangluhur 97 2 328 38
8 Ngadikusuman 8 10 68 -
9 Wringinanom 12 8 72 -
10 Sudungdewo 16 12 126 -
11 Bejiarum 14 12 196 20
12 Damarksiyan 79 - 352 58
13 Banjar 11 4 189 35
14 Tlogodalem 51 4 322 92
15 Tlogomulyo 18 - 256 160
16 Pagerejo 253 - 848 373
17 Candimulyo 146 2 589 489
18 Purbosono 63 - 389 108
19 Candiyasan 86 - 402 300
20 Kapencar 127 - 478 221
21 Reco 111 - 359 418
Jumlah 1,336 104 5.632 2.383
Sumber : BPS Tahun 2009;
Dari data di atas, menunjukkan bahwa potensi ternak baik sapi maupun domba cukup menonjol. Selain jumlah ternak yang banyak, juga didukung oleh potensi lahan tegalan yg cukup luas yang masih memungkinkan ketersediaan pakan rumput. Kondisi lahan tegalan ini, belum seluruhnya dimanfaatkan petani sebagai bahan nutrisi pakan ternak. Lahan tegalan yang ada dipergunakan sebagai komoditas sayuran. Pemanfaatan lokasi sebagian lahan terutama di pinggir-pinggir batas / galengan yang ditanami rumput.
Dari luasan lahan tersebut, masih memungkinkan potensi penambahan ternak sapi di kawasan ini sebanyak 30.000 ekor. Jumlah ini diasumsikan jika semua lahan dipergunakan sebagai ladang rumput. Akan tetapi jika asumsi lahan tegalan dipergunakan untuk pertanian dan perkebunan seperti komoditas holtikultura atau sayuran luasnya 80%, maka masih berpotensi adanya jumlah ternak sapi sebanyak 6.672 ekor. Jumlah ini hanya menggunakan luasan lahan 20% dari total lahan tegalan yang ada. Sementara kondisi di masyarakat baru terdapat 1.336 ekor, maka dengan asumsi tersebut, masih terdapat kekurangan ternak sapi 5.336 ekor. Kondisi yang masih memperihatinkan bahwa dari jumlah ternak yang ada saat ini, dilihat dari kepemilikannya hanya 40% yang benar-benar milik petani, dan yang lainnya adalah milik orang lain yang dikelola petani melalui system gaduh atau beberapa diantaranya milik kelompok bersama dari bantuan pemerintah.

Kondisi UMKM

Sebagai kecamatan terbesar kedua setelah Wonosobo, Kertek menjanjikan akan adanya pengembangan usaha mikro kecil dan menengah. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya UMKM yang ada di wilayah ini yaitu usaha mikro 2.293 buah usaha kecil sebanyak 266 dan menengah sebanyak 46 buah. Adapun sebagian besar usaha mikro yang digeluti masyarakat adalah industri rumah tangga dan perdagangan. Permasalahan yang mereka hadapi antara lain berupa akses permodalan, akses pemasaran maupun kualitas produk yang belum kompetitif. Di samping itu kondisi sarana dan prasarana infrastruktur belum memadai, sehingga selain berakibat pada upaya masuknya investasi ke sektor UMKM, juga menimbulkan beban biaya produksi yang lebih mahal.
Melalui program pemberian perijinan gratis kepada UMKM pada tahun 2010 ini di mana yang kami usulkan sebanyak sebanyak 1008 buah baik berupa SIUP, Ijin HO, IMB, Tanda Daftar Perdagangan (TDP) ataupun Tanda Daftar Industri (TDI), nantinya diharapkan bisa ditangkap mereka sebagai peluang dalam memperoleh akses permodalan. Peran pemerintah selanjutnya selain membuka semua akses infrastruktur jalur ekonomi pedesaan, juga memfasilitasi pihak permodalan di sektor swasta/BUMN maupun perbankan melalui bantuan kredit lunak. Peningkatan kapabilitas sektor UMKM juga masih menemui kendala baik kemampuan di bidang pemasaran maupun keahlian dalam berproduksi. Manajemen yang mereka jalankan masih sangat bergantung pada alam dan belum menggunakan teknologi modern dalam meningkatkan produksinya.
UMKM yang ada di Kecamatan Kertek sebagian besar bergerak di bidang perdagangan dan industri. Di bidang perdagangan berupa aneka usaha baik warung kelontong, pedagang sayur keliling, warung sembako dan warung makan dalam kategori mikro sebanyak 1.513 orang.
Sementara di bidang Industri ada 883 orang yang bergerak usahanya pada ;
1) Industri pande besi sebanyak 135 orang, terdapat di desa Purwojati dan sumberdalem. Kendala mereka saat ini kesulitan modal dan bahan baku, serta keahlian produk yang inovasi seiring dengan tuntutan dan persaingan usaha dengan pengusaha besar.
2) Pembuatan batako sebanyak 23 orang, terutama berada di Desa Purwojati, Ngadikusuman, Sumberdalem. Kesulitan yang dihadapi adalah permodalan dan bimbingan teknis produksi.
3) Industri sepatu dan sandal sebanyak 42 orang, berada di Dusun Klilin Desa Sindupaten. Kendala yang dihadapi selain faktor modal juga pemasaran. Kurangnya keahlian yang mampu mendorong usaha yang lebih memiliki nilai kompetitif pasar.
4) Industri kerajinan bambu sebanyak 262 orang, baik berupa anyaman cething, tumbu, caping, kalo, rigen, tampah, sangkar burung dan lainnya. Desa-desa penghasil industri ini berada di Karangluhur, Purwojati, Candiyasan dan Bojasari. Kendala yang dihadapi selain permodalan, menurunya pasar akibat kalah oleh produk-produk berbahan plastik yang bentuknya juga lebih inovatif.
5) Industri olahan makanan basah dan kering sebanyak 283 orang seperti rengginang, jenang dan wajik snerek, combro, kripik tempe, kerupuk gandum maupun jagung, roti, nilam, getuk dan gejos. Desa-desa potensi penghasil industri ini utamanya ada di Karangluhur, Kertek, Kapencar, Bojasari, Purwojati, Sumberdalem, Ngadikusuman, Surenggede dan Sudungdewo.
6) Industri pertukangan dan meubel sebanyak 54 orang yang memproduksi aneka meubel seperti almari, dipan tempat tidur, meja dan kursi. Industri ini yang sudah menonjol di desa Bojasari. Permasalahannya hampir sama dengan industri-industri kecil lainnya yakni faktor permodalan dan pemasaran.
7) Industri Tempe sebanyak 84 orang yang menghasilkan tempe kedelai. Industri ini ada di hampir semua desa, hanya yang lebih dominan berada di desa Sindupaten, Ngadikusuman dan Sumberdalem.
8) Industri Kerajinan Tambaga dan Alumunium sebanyak 82 orang yang sudah tergabung di dalam 2 kelompok usaha bersama di Desa Surenggede. Produk yang dihasilkan antara lain kenceng, dandang, ceret, dan peralatan rumah tangga lainnya. Permasalahanya sama disamping permodalan dan bahan baku yang semakin langka dan mahal, juga semakin tersingkirnya mereka dari produk-produk pabrik.

Komoditas Perkebunan

komoditas di bidang perkebunan yang potensial di wilayah ini adalah komoditas Tanaman Tembakau, Kopi jenis Arabika dan Kebun teh. Jumlah produksi tanaman tembakau pada tahun 2009 dihasilkan 419,3 ton daun tembakau rajangan dari jumlah tanaman tembakau sebanyak 19.767.000 batang yang ditanam di lahan seluas 988,4 hektar. Desa-desa potensi penghasil tembakau antara lain Pagerejo, Reco, Candiyasan, Kapencar, Purbosono, Tlogomulyo, Candimulyo, Purwojati, Tlogomulyo, Damarkasiyan dan Sumberdalem.
Jumlah produksi kopi jenis arabika tahun 2009 sebanyak 267,5 ton berupa kopi basah. Jumlah produksi ini dihasilkan dari populasi tanaman sebanyak 102.500 batang di area lahan seluas 68,13 hektar. Desa penghasil terbesar adalah Kapencar, Candimulyo dan Reco serta desa-desa kawasan atas lainnya seperti Pagerejo, Candiyasan dan Purbosono.
Sedangkan jumlah produksi teh mencapai 19,48 ton dengan jumlah tanaman sebanyak 52.700 batang di area lahan seluas 21,08 hektar. Jumlah produksi ini di luar milik PT Tambi yang ada di kawasan Kertek dan merupakan produksi milik rakyat. Adapun desa-desa penghasil teh, antara lain Damarkasiyan, Pagerejo, Tlogomulyo, Reco, Kapencar, Candiyasan dan Tlogodalem.
Melihat potensi yang ada di bidang perkebunan ini, sementara masyarakat masih terkendala dengan faktor kepemilikan lahan, diharapkan ke depan program Lembaga Masyarakat Desa dan Hutan (LMDH) di kawasan ini dapat terealisasi dikarenakan lokasi desa-desa tersebut langsung berbatasan dengan kawasan hutan. Adapun potensi luas lahan yang diproyeksikan sebagai LMDH milik perhutani seluas 1.163,9 Hektar meliputi di 5 (lima) desa yakni :
1) Candiyasan seluas 454.049 Ha
2) Damarkasiyan seluas 59.145 Ha
3) Pagerejo seluas 132.321 Ha
4) Kapencar seluas 391.599 Ha
5) Reco seluas 126.786 Ha

Jika lahan seluas tersebut dapat dikelola secara bersama oleh pihak Perhutani dan masyarakat sekitar, maka selain dalam tujuan penanganan lahan kritis yang ada (menjaga kelestarian lingkungan) juga mampu memberi manfaat ekonomi bagi warga sekitar. Masyarakat ikut menjaga tanaman hutan, tetapi di sela tanaman tersebut masyarakat dapat menanaminya dengan tanaman perkebunan seperti kopi arabika maupun rumput sebagai pendukung nutrisi peternakan di kawasan tersebut.

Potensi komoditas ubi kayu dan ubi jalar.

Sangat berbeda dengan komoditas padi maupun jagung, nampaknya komoditas ubi kayu dan ubi jalar di tahun 2009 mengalami penurunan. Pada tahun 2008 budidaya ubi kayu mencapai luasan lahan panen 139 hektar sementara tahun 2009 hanya 25 hektar. Sama dengan ubi jalar, tahun 2008 ada di 217 hektar sedangkan tahun 2009 hanya di 27 hektar. Akibatnya terjadi penurunan jumlah produksi yakni ubi kayu tahun 2008 sebanyak 34.750 ton turun menjadi 625 ton di tahun 2009 dan pada komoditas ubi jalar produksi tahun 2008 sebanyak 3.689 ton turun menjadi 459 ton pada tahun 2009. Kawasan yang membudidayakan tanaman ubi kayu dan ubi jalar di tahun 2009 hanya di sebagian wilayah di tengah (12 desa). Justru kawasan atas yang jumlah produksi jagungnya tinggi tidak dioptimalkan dengan berbagai jenis tanaman lain yang sejenis seperti ubi-ubian.

Potensi komoditas padi dan jagung

Berbeda dengan komoditi sayur, komoditi pangan khususnya padi banyak dihasilkan di wilayah Kertek kawasan bagian bawah yang ditunjang dengan system irigasi dan lokasi persawahan yang luas.jumlah produksi pada tahun 2009 sebanyak 12.236 Ton pada lahan panen seluas 2.450 Hektar. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya yang justru dengan luas lahan yang lebih sempit yakni tahun 2008 sebanyak 11.968 ton pada lahan panen seluas 2.992 Hektar. Wilayah penghasil padi terbesar ada di Desa Sindupaten, Bojasari, Surenggede, Ngadikusuman, Wringinanom, Karangluhur, Purwojati, Kertek, dan Sumberdalem.
Sementara untuk komoditas jagung jumlah produksi tahun 2009 sebanyak 9.111 ton pada lahan panen seluas 2.170 hektar. Jumlah ini juga meningkat dari 3 tahun terakhir yakni tahun 2008 sebanyak 6.786 ton pada lahan 1.939 Ha, tahun 2007 sebanyak 8.720 ton pada lahan 3.269 Ha dan tahun 2006 sebanyak 4.847 ton pada lahan seluas 1.939 Ha. Wilayah penghasil jagung adalah kebalikan dari komoditas padi, yakni berada di kawasan atas seperti Reco, Kapencar, Candiyasan, Candimulyo, Pagerejo, Tlogomulyo dan Purwojati.

Potensi komoditas cabe dan tomat

Jumlah produksi komoditas cabe pada tahun 2009 sebanyak 3.541 ton di lahan panen seluas 707 hektar. Jumlah ini meningkat tajam dari produksi 3 tahun terakhir yakni tahun 2008 sebanyak 1.003 ton di lahan 200 Ha, tahun 2007 sebanyak 1.530 ton di lahan 306 Ha, dan tahun 2006 sebanyak 554 ton di lahan 210 Ha. Desa-desa potensi komoditas cabe berada di kawasan tengah yakni Damarkasiyan, Bejiarum, Tlogodalem, Karangluhur, Ngadikusuman, Purwojati dan Tlogomulyo.
Sementara untuk komoditas tomat justru berada di kawasan bawah yang meliputi Kelurahan Kertek, Desa Sindupaten, Purwojati, Bojasari, Surenggede, Sudungdewo, Bejiarum, dan Purwojati. Jumlah produksi tomat pada tahun 2009 lalu sebanyak 480 ton dengan lahan seluas 40 hektar. Jumlah ini meningkat dibanding produksi selama 3 tahun terakhir yakni tahun 2008 sebanyak 216 ton di lahan 18 Ha, tahun 2007 sebanyak 180 ton di lahan 15 Ha dan tahun 2006 sebanyak 216 ton di lahan 17 Ha.

Potensi Komoditas kobis dan sawi

Sama dengan komoditas bawang daun, komoditas kobis juga terdapat di hampir semua desa yang ada. Namun jumlah produksi yang terbesar dihasilkan di kawasan atas (lereng lembah SUSI) dengan rasio jumlah perbedaan tonase produksi antara kawasan bawah dan atas cukup signifikan. Jumlah produksi kobis tahun 2009 sebanyak 4.340 ton tersebar di luas lahan panen seluas 217 hektar. Jumlah ini mengalami peningkatan dari 3 tahun terakhir yakni 3.160 ton di lahan 158 Ha pada tahun 2008, sebanyak 3.140 ton di lahan 157 Ha pada tahun 2007 dan sebanyak 3.160 ton di lahan 158 Ha pada tahun 2006. Desa-desa penghasil terbesar komoditas ini adalah Kapencar, Tlogomulyo, Candiyasan, Reco, Candimulyo, Pagerejo, Purbosono, Damarkasiyan dan Banjar.
Sementara pada komoditas sawi hanya beberapa desa yakni kawasan atas dengan jumlah produksi tahun 2009 sebanyak 396 ton di luasan lahan panen seluas 36 hektar. Komoditi ini juga mengalami peningkatan dari perkembangan 3 tahun terakhir yakni tahun 2008 sebanyak 77 ton di lahan 7 Ha, tahun 2007 sebanyak 341 ton di lahan 31 Ha dan tahun 2006 sebanyak 75 ton di lahan 7 Ha. Desa-desa penghasil komoditas sawi sama dengan desa penghasil komoditas kobis yakni kawasan lembah Sumbing Sindoro.

Potensi komoditas bawang daun dan kacang merah

Potensi komoditas bawang daun berada di hampir seluruh desa di Kecamatan Kertek dengan total produksi pada tahun 2009 lalu sebesar 953 ton di lahan panen seluas 106 hektar. Jumlah produksi ini menurun selama 3 (tiga) tahun terakhir yakni tahun 2008 sebanyak 1.476 ton, tahun 2007 sebanyak 1.065 ton dan tahun 2006 sebanyak 1.394 ton. Penurunan ini dikarenakan karena faktor luasan lahan yang dipergunakan petani jumlahnya menurun yakni tahun 2008, seluas 164 hektar, tahun 2007 seluas 121 Ha dan tahun 2006 seluas 164 Ha. Penurunan cakupan luasan lahan ini dilakukan karena petani mengalihkan budidaya pertanian dengan produk yang berbeda. Kawasan komoditi bawang daun lebih banyak dihasilkan di desa-desa di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing dengan urutan tertinggi di desa Candimulyo, Purbosono, Reco, Kapencar, Banjar dan Candiyasan.
Sementara komoditas kacang merah pada tahun 2009 mampu diproduksi sebanyak 2.855 ton dengan luasan lahan 256 hektar. Komoditi ini tidak mengalami penurunan bahkan dibanding tahun 2007 dan 2006 meningkat cukup signifikan. Kawasan penghasil komoditas kacang merah, hanya berada di lokasi lereng lembah Susi (Sumbing–Sindoro) dengan urutan jumlah produksi dari yang paling tinggi di desa Kapencar, Reco, Candiyasan, Purbosono, Pagerejo, Tlogomulyo dan Banjar.

Kondisi sumber daya Pertanian

Komoditas unggulan bidang pertanian berupa padi, tanaman palawija serta sayur-sayuran. Jika dilihat dari jenis mata pencaharian penduduk Kecamatan Kertek yang 46% adalah petani dan buruh tani, maka pengembangan pertanian merupakan prioritas yang harus dijalankan di wilayah ini. Luas lahan pertanian di kawasan Kertek pada tahun 2009 seluas 3.876,5 Hektar yang terbagi dalam 2 (dua) kategori yaitu persawahan dan tegalan. Luas lahan sawah adalah 1.480,8 Hektar dan tegalan seluas 2.395,7 Hektar. Kawasan persawahan banyak digunakan untuk budidaya padi dan tanaman palawija, sementara untuk kawasan tegalan banyak dibudidayakan sayur-sayuran.
Jika dilihat dari sumber daya manusianya, ada 111 kelompok tani yang tersebar di 21 desa/kelurahan dengan jumlah anggota sebanyak 4.326 petani. Adapun perincian jumlah petani tersebut dilihat dari kepemilikan lahannya terdiri atas 3.904 orang petani pemilik lahan sendiri, 208 orang petani penggarap dan 214 orang sebagai buruh tani. Data ini menunjukkan bahwa petani pemilik sangat dominan dan hal ini merupakan potensi kekuatan yang masih bisa dikembangkan dalam meningkatkan komoditas unggulan pertanian di kawasan ini.

Kondisi Kemiskinan

Ukuran kesejahteraan sangat bervariasi, namun secara mendasar dapat diklasifikasikan pada tiga kekuatan dasar dalam memenuhi kebutuhan yakni pada pemenuhan Ekonomi, Pendidikan dan Kesehatan. Ekonomi dilihat pada aspek kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yakni pangan, sandang dan papan/perumahan. Sementara aspek pendidikan dilihat pada sejauhmana kemampuan anggota keluarga dalam menempuh jenjang pendidikan yang tinggi, dan aspek kesehatan dilihat pada sejauhmana mereka mampu memperoleh layanan kesehatan dan terbebas dari penyakit.
Dari jumlah Kepala Keluarga yang ada yakni sebanyak 22.344 KK, terdapat Kepala Keluarga miskin sebanyak 8.984 KK atau 40,2 %. Dari angka tersebut, KK yang menerima bantuan langsung tunai (BLT) tahun 2009 sebanyak 12.126 KK dengan total uang sebanyak Rp. 1.728.400.000,-. Jumlah penerima BLT ini meningkat dari jumlah KK miskin di atas dikarenakan pada kondisi klasifikasi pendataan yang berbeda maupun kondisi lapangan yang sarat akan berbagai kepentingan.
Sementara pada jumlah KK yang menerima alokasi beras miskin hanya sebanyak 8.084 KK didasarkan pada data terakhir BPS tentang KK miskin walaupun pada prakteknya alokasi pembagiannya lebih mengedepankan aspek pemerataan. Inilah kendala lapangan yang sampai saat ini masih ada, sehingga dalam pengalokasian beras miskin masih mengedepankan sisi pemerataan untuk meredam gejolak di masyarakat.
Sementara dilihat pada aspek kepimilikan asuransi kesehatan orang miskin sebanyak 8.642 orang, sehingga bila dibandingkan dengan jumlah KK miskin terdapat selisih 342 orang. Sayangnya belum seluruh anggota keluarga warga miskin mendapatkan kartu askeskin akibat kuota penambahan peserta sangat dibatasi. Kepemilikan askeskin ini sangat dirasakan manfaatnya karena pemenuhan kebutuhan hak dasar akan kesehatan warga miskin dapat terpenuhi di berbagai pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta yang telah bekerjasama dengan PT askes.
Namun demikian dari tahun ke tahun angka kemiskinan justru meningkat. Kondisi ini diakibatkan oleh lemahnya si miskin dari berbagai faktor, faktor ketidakberdayaan karena rendahnya kapabilitas, ketidakmampuan dalam menangkap peluang dan faktor kesempatan. Karenanya upaya pemecahan pemberantasan kemiskinan harus melibatkan si miskin itu sendiri dalam merencanakan kebutuhannya. Si miskin didudukkan sebagai pelaku dengan diberikan berbagai fasilitas pendukung seperti keahlian, akses bantuana permodalan maupun network jejaring usaha.