19 Januari 2012

TIPS MENGHADAPI ANGIN PUTING BELIUNG


KERTEK - Angin puting beliung atau dikenal luas sebagai tornado, merupakan salah satu gejala alam ekstrem yang berpotensi mengakibatkan bencana. Bencana alam angin puting beliung merupakan bencana yang terbilang sering terjadi khususnya di wilayah Kecamatan Kertek. Dalam kurun waktu 3 bulan tercatat terjadi 2 kali kejadian bencana angin puting beliung yaitu di Dusun Yososari, Desa Reco yang terjadi pada tanggal 13 November 2011, dan yang terbaru ialah yang terjadi di Dusun Candiroto, Desa Candimulyo yag mengakibatkan sedikitnya 5 rumah rusak berat dan 25 rumah rusak sedang dan ringan. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun kerugian yang terjadi ditaksir mencapai nilai 30 juta rupiah.

Tanda tanda terjadinya angin puting beliung sebenarnya bisa dikenali dan biasanya terjadi beberapa menit sebelum terjadinya gejala alam ini. Berikut tanda-tanda terjadinya angin puting beliung yang kami rangkum dari berbagai sumber .

Gejala Awal Puting Beliung
·         Udara terasa panas dan gerah (sumuk).
·    Di langit tampak ada pertumbuhan awan Cumulus (awan putih bergerombol yang berlapis-lapis).
·   Diantara awan tersebut ada satu jenis awan mempunyai batas tepinya sangat jelas bewarna abu-abu menjulang tinggi yang secara visual seperti bunga kol.
·        Awan tiba-tiba berubah warna dari berwarna putih menjadi berwarna hitam pekat (awan Cumulonimbus).
·     Ranting pohon dan daun bergoyang cepat karena tertiup angin disertai angin kencang sudah menjelang.
·     Durasi fase pembentukan awan, hingga fase awan punah berlangsung paling lama sekitar 1 jam. Karena itulah, masyarakat agar tetap waspada selama periode ini.

Proses Terjadinya Puting Beliung
Proses terjadinya puting beliung sangat terkait erat dengan fase tumbuh awan Cumulonimbus (Cb)
Fase Tumbuh
·     Dalam awan terjadi arus udara naik ke atas yang kuat. Hujan belum turun, titik-titik air maupun Kristal es masih tertahan oleh arus udara yang naik ke atas puncak awan.
Fase Dewasa/Masak
·       Titik-titik air tidak tertahan lagi oleh udara naik ke puncak awan. Hujan turun menimbulkan gaya gesek antara arus udara naik dan turun. Temperatur massa udara yang turun ini lebih dingin dari udara sekelilingnya. Antara arus udara yang naik dan turun dapat timbul arus geser memuntir, membentuk pusaran. Arus udara ini berputar semakin cepat, mirip sebuah siklon yag “menjilat” bumi sebagai angin puting beliung. Terkadang disertai hujan deras yang membentuk pancaran air (water spout).
Fase Punah
·  Tidak ada massa udara naik. Massa udara yang turun meluas di seluruh awan. Kondensasi berhenti. Udara yang turun melemah hingga berakhirlah pertumbuhan awan Cb.

Karakteristik Puting Beliung
·         Puting berliung merupakan dampak ikutan awan Cumulonimbus (Cb) yang biasa tumbuh selama periode musim hujan, tetapi tidak semua pertumbuhan awan CB akan menimbulkan angin puting beliung.
·         Kehadirannya belum dapat diprediksi.
·         Terjadi secara tiba-tiba (5-10 menit) pada area skala sangat lokal.
·         Pusaran puting beliung mirip belalai gajah/selang vacuum cleaner.
·         Jika kejadiannya berlangsung lama, lintasannya membentuk jalur kerusakan.(anis)